Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Seorang siswa kelas 1 SMAN 2 Ngaglik Sleman, Yogyakarta, Zio Sandi (15), mencuri perhatian dengan membawakan dua talenta yang jarang ada atlet sepak bola junior yang berprestasi dan penyanyi pop dangdut Jawa yang menjanjikan. Remaja ini baru saja meluncurkan debut singlenya yang berjudul "Turah Wani", menandai langkah percaya dirinya ke dalam industri musik.
Kemunculan Zio Sandi menawarkan wajah baru yang fresh. Di satu sisi, ia adalah atlet yang tergabung dalam tim junior PSS Sleman dengan impian menjadi pemain profesional. Di sisi lain, ia memiliki suara merdu dan passion di dunia tarik suara, sebuah kombinasi yang jarang ditemukan dan kurang terekspos di kalangan remaja seusianya.
Lagu perdananya, "Turah Wani", yang diciptakan dan diproduseri oleh Torno Widayat, mengusung genre pop dangdut Jawa dengan sentuhan modern ala generasi TikTok. Lagu ini bercerita tentang hubungan asmara remaja yang lugu namun penuh tekad.
"Lirik lagu 'Turah Wani' itu kan tentang kita memberanikan diri buat bilang ke orang tua si cewek, bahwa ini lho, aku sebagai cowok itu serius dan berkomitmen," kata Zio Sandi saat diwawancarai.
Ia menekankan pesan kuat di balik lagu tersebut, yaitu tentang tanggung jawab dalam berpacaran. "Jadi ya pesannya sebagai laki-laki harus bertanggung jawablah. Kalau suka sama anaknya, harus 'nembak' dulu, minta izin dulu sama orang tuanya. Jangan main belakang atau sembunyi-sembunyi, itu nggak baik," ujarnya.
Zio berharap "Turah Wani" dapat menjadi anthem bagi remaja Jawa masa kini yang sedang memperjuangkan cintanya dengan cara yang benar. "Aku ingin lagu ini relevan sama anak-anak seusiaku. Cinta remaja itu lucu, lugu, tapi kalau sudah serius ya beneran nggak main-main," ungkapnya.
Ketertarikan Zio pada sepak bola telah tumbuh sejak ia berusia satu tahun, seringkali mengikuti ayahnya bermain di lapangan. Ketertarikan itu kemudian berlanjut dengan mendaftar ke sekolah sepak bola (SSB) pada usia enam tahun. Hingga saat ini, ia tetap konsisten berlatih dan masih bercita-cita untuk menjadi pemain profesional.
Sama halnya dengan sepak bola, darah musiknya juga mengalir dari sang ayah, Sandi Abdurakhman, yang merupakan vokalis dari grup band pop rock nasional era 2000-an, Newdays. Zio tumbuh dalam lingkungan yang musikal, sering mengikuti ayahnya latihan dan manggung.
Awalnya, ketertarikannya lebih condong kepada instrumen drum, yang telah dipelajarinya melalui les sejak usia empat tahun. Namun, jadwal yang bentrok dengan latihan bola memaksanya memilih untuk fokus pada satu bidang, yaitu sepak bola.
Bakat menyanyinya justru terlihat secara tidak sengaja. "Awalnya Zio Sandi mencoba rekaman sendiri di rumah karena ada tugas minat sekolah. Momen itu terjadi saat Zio Sandi kelas empat SD," katanya. Dari situlah ia ketagihan, sering membuat cover lagu, dan mulai mengagumi gaya musik Denny Caknan.
"Dan semoga suatu saat aku bisa dapat kesempatan ketemu dan satu panggung bareng Denny Caknan," tambahnya.
Zio mengakui bahwa dengan mendengarkan Denny Caknan, musikalitasnya semakin terasah. Ia banyak belajar tentang artikulasi, cengkok, dan dinamika vokal dari penyanyi idolanya itu. Meski demikian, ia tidak khawatir dicap sebagai peniru.
"Aku juga tidak khawatir ketika dibilang sebagai peniru (Denny Caknan), karena bagaimana pun Denny Caknan ya tetaplah dia. Aku juga masih berproses dan bisa jadi karya-karya berikutnya aku justru sudah menemukan karakter Zio Sandi yang sesungguhnya," imbuhnya.
Artikel Terkait
Perdana, Jogja Scooter Parade digelar Tahun Depan
Kerinduan Slanker Bakal Terobati Dalam Tur 10 Kota “HEY... SLANK X BERANI KITA BEDA”
Helloween Batal Tampil Di Festival Terakhir JogjaROCKarta 2025.