Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi memberhentikan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum per 26 November 2025.
Dalam surat edaran, PBNU menegaskan bahwa sejak saat itu Gus Yahya tidak lagi berwenang menggunakan atribut, fasilitas, ataupun mewakili organisasi.
Kekosongan posisi Ketum sementara diambil alih Rais Aam PBNU, sambil menunggu hasil rapat pleno untuk menentukan struktur baru.
Risalah Syuriyah PBNU mengungkap sejumlah alasan di balik keputusan tersebut. Salah satu pemicu utama adalah undangan narasumber yang dinilai terkait jaringan Zionisme Internasional dalam program kaderisasi tertinggi PBNU, AKN NU.
Langkah itu dianggap bertentangan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dan mencederai dasar organisasi, terlebih terjadi di tengah kecaman dunia terhadap Israel.
Selain itu, laporan internal menyebut adanya dugaan pelanggaran tata kelola keuangan yang berpotensi merugikan badan hukum PBNU.
Sebanyak 37 dari 53 anggota pengurus harian Syuriyah sepakat meminta Gus Yahya mundur, dan jika tidak, menetapkan pemberhentian tidak hormat.
Keputusan final kemudian disahkan pada 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.
Polemik ini mendapat sorotan luas. Gus Yahya menyayangkan keputusan tersebut dan menilai dirinya tidak diberi kesempatan memberikan klarifikasi secara terbuka.
Ia menegaskan perlunya proses pembuktian objektif dan mendorong rekonsiliasi internal agar PBNU tetap solid.
Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menilai polemik itu sebagai dinamika organisasi yang wajar.
Ia meminta seluruh pengurus dan warga NU tetap tenang serta tidak terpengaruh informasi yang menyesatkan.
Artikel Terkait
Ketua Tim Pemenangan Andika-Hendi Safari Politik ke Tokoh NU Jawa Tengah
Cucu Pendiri NU: Kyai Yakin Andika-Hendi Mampu Bawa Jateng Lebih Baik Lagi
Lanjutkan Roadshow ke Kiai NU, Gus Umar Wahid Bertemu Ketua Umum PBNU
Kiai NU Jateng Siap Mobilisasi Dukungan untuk Kemenangan Luthfi-Yasin
Presiden : Kesolidan Jemaah Muslimat NU Menginspirasi