“Saya Pikir Meninggal” — Kesaksian Mencekam Korban Selamat Tragedi KA Argo Bromo vs KRL Bekasi Timur

Photo Author
Rully Satriadi, Suara Pembaruan
- Kamis, 30 April 2026 | 21:39 WIB
Menyoroti kesaksian korban selamat dalam KRL di insiden tabrakan kereta pada Stasiun Bekasi Timur. (Instagram.com/@cretivox)
Menyoroti kesaksian korban selamat dalam KRL di insiden tabrakan kereta pada Stasiun Bekasi Timur. (Instagram.com/@cretivox)

 



Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Tragedi tabrakan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, masih menyisakan luka dan trauma mendalam bagi para korban yang selamat.

Hingga kini, data terbaru mencatat sebanyak 16 orang meninggal dunia, sementara 91 korban lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan pascakecelakaan maut tersebut.

Di tengah proses pemulihan para korban, muncul kesaksian memilukan dari Sausan Sarifah (29), salah satu penumpang KRL yang berhasil selamat meski sempat terjepit di dalam gerbong saat insiden terjadi.

Melalui unggahan akun Instagram @cretivox pada Kamis, 30 April 2026, Sausan menceritakan detik-detik mengerikan yang dialaminya ketika tabrakan berlangsung secara tiba-tiba tanpa memberi kesempatan penumpang menyelamatkan diri.

“Saya pikir saya meninggal,” ujar Sausan.

Ia mengungkapkan, suasana di dalam kereta awalnya berjalan normal seperti biasa. Namun dalam hitungan detik, keadaan berubah menjadi kepanikan luar biasa setelah terdengar suara benturan keras dari arah lokomotif.

“Tiba-tiba suara kereta lokomotif itu kenceng banget, langsung nabrak,” tuturnya.

Menurut Sausan, tabrakan terjadi begitu cepat sehingga para penumpang tidak sempat bereaksi ataupun berusaha keluar dari gerbong.

“Jadi kita nggak ada waktu untuk selamatkan diri, buat keluar dari kereta,” kenangnya.

Sausan menggambarkan kondisi di dalam kereta saat benturan terjadi seperti diguncang gempa besar. Para penumpang saling terhimpit dan terlempar akibat kerasnya tabrakan.

Dalam situasi itu, Sausan mengaku tubuhnya terjepit di antara penumpang lain serta tertimpa barang-barang yang berhamburan di dalam gerbong.

Ia juga merasakan kesulitan bernapas karena ruang di sekitarnya semakin sempit dan penuh sesak. Di tengah kondisi tersebut, Sausan hanya bisa berharap bantuan segera datang.

“Apalagi kalau misalkan evakuasinya lama, karena di situ sudah ketiban-tiban, jadi kayak pasti akan kehabisan napas, gitu saya pikir,” ungkapnya.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X