Gunungkidul, SUARA PEMBARUAN - Beredar video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah kantong plastik berisi pakaian bekas ditemukan warga di kawasan Kwarasan, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul.Baca Juga: Isu Dua Pesawat Viral, Seskab Tegaskan Prabowo Cuma Pakai Satu Jet Garuda
Dalam unggahan akun Instagram @pantaujogjakarta, terlihat tujuh kantong plastik berjajar di atas jembatan Sungai Oya pada Selasa malam, 3 Februari 2026. Awalnya, warga mengira kantong-kantong tersebut merupakan sampah yang dibuang sembarangan.
Namun setelah diperiksa, plastik itu berisi pakaian yang masih layak pakai. Pada secarik kertas tertulis pesan, “Boleh diambil, baju pantas pakai. Matur suwun,” tanpa keterangan siapa yang meninggalkannya.Baca Juga: Produk Kriya dan Wastra Gowa Tampil di INACRAFT 2026 Jakarta
Perekam video menyebut pakaian tersebut bisa dimanfaatkan warga yang membutuhkan atau disalurkan kembali. Ia menyayangkan jika barang layak pakai dibiarkan begitu saja di pinggir jalan.
Video tersebut telah ditonton lebih dari 130 ribu kali dan memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian warganet menilai cara tersebut kurang pantas karena terkesan seperti membuang sampah, bukan berdonasi.Baca Juga: SIG Gaspol Cetak Tukang Bersertifikat, 500 Peserta Ikut Pelatihan Serentak Pecahkan Rekor MURI
Ada yang berpendapat seharusnya pakaian diserahkan ke tempat penampungan atau lembaga donasi agar lebih tepat sasaran. Meski begitu, beberapa lainnya menduga pemilik baju mungkin hanya ingin mengurangi isi lemari dengan cara praktis.
Artikel Terkait
Para Siswa SD WNI di Kairo Sambut Prabowo Kenakan Pakaian Adat Sumbar
Program Bantuan Pakaian Seragam dan Peralatan Sekolah Bagi Siswa SD dan SMP di Benteng Berlanjut
PNM Ubah 10 Ton Pakaian Jadi Simbol Pemberdayaan dan Keberlanjutan
Larangan Impor Pakaian Bekas Jadi Sorotan DPR, Imas Aan Ubudiyah Dukung Langkah Tegas Pemerintah
Kemendag Musnahkan 500 Balpres Ilegal Senilai Rp112 Miliar, Tegaskan Larangan Impor Pakaian Bekas
Ekonom Dukung Purbaya Tindak Impor Baju Bekas: Ancam Industri Lokal dan Perburuk Kemiskinan