PNM Ubah 10 Ton Pakaian Jadi Simbol Pemberdayaan dan Keberlanjutan

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 21 Mei 2025 | 11:20 WIB

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Di tengah arus deras industri mode cepat (fast fashion) yang kerap menumpuk limbah tekstil, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mengambil langkah berani untuk memulai perubahan. Lewat program bertajuk RE3: Reused, Re-love, Re-style, PNM mengajak lebih dari 70 ribu karyawannya untuk tidak sekadar berbenah lemari, tetapi juga berbagi makna dan harapan.Baca Juga: Seluruh Kepala Daerah Ikut Sarasehan Kebangsaan

Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan, sebanyak 10 ton pakaian berhasil dikumpulkan dari 61 titik di seluruh Indonesia. Lebih dari sekadar angka, program ini menekankan dampak sosial dan lingkungan yang nyata—menyulap barang yang tak lagi terpakai menjadi sumber keberdayaan.

Setiap potong pakaian yang dikumpulkan dipilah secara cermat. Bukan hanya agar layak pakai kembali, tapi karena PNM ingin memastikan bahwa setiap donasi adalah bentuk kepedulian yang tulus.

Dalam proses ini, PNM melibatkan ratusan nasabah PNM Mekaar yang bergerak di bidang usaha laundry. Mereka membersihkan dan merapikan pakaian, menjadikan proses ini sebagai peluang ekonomi tambahan bagi para pelaku usaha mikro binaan PNM.Baca Juga: Kejari Kaur Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Perjalanan Dinas Fiktif DPRD Senilai Rp 11 Miliar

Setelah siap, pakaian-pakaian tersebut disalurkan kepada nasabah PNM lainnya yang membutuhkan. Ada pula yang dikonversi menjadi seragam sekolah bagi anak-anak di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), memberikan dampak langsung pada pendidikan dan masa depan mereka.

Tak hanya itu, sekitar 60 kilogram pakaian berbahan jeans yang berhasil dikumpulkan dialihkan ke nasabah PNM Mekaar yang mengolah limbah tekstil menjadi produk kreatif bernilai jual. Upaya ini menjadi contoh konkret bagaimana limbah dapat diberdayakan untuk menggerakkan ekonomi sirkular.Baca Juga: Penanggulangan Kebakaran di Wilayah Ring 1 AFT Hasanuddin Desa Baji Mangngai

“Pakaian ini bukan hanya kain, tapi simbol bahwa setiap orang berhak merasa percaya diri dengan memperhatikan sustainability,” ujar Arief Mulyadi, Direktur Utama PNM.

Dengan menggabungkan semangat minimalis, keberlanjutan, dan pemberdayaan ekonomi, PNM menunjukkan bahwa aksi sederhana seperti decluttering bisa menjadi pemantik perubahan besar. Dari lemari pribadi para karyawan, pakaian itu kini melangkah lebih jauh—menyentuh kehidupan, membuka peluang, dan menyemai harapan baru.Baca Juga: Siap-siap Jogja Coffee Week #5 digelar 5-7 September

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X