pendidikan

Tantangan Petani Konvensional di Ogan Ilir dan Masalah Stunting yang Mengancam Masa Depan Anak-Anak

Jumat, 27 September 2024 | 11:40 WIB
Nico Syah Putra, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. { Dok Nico ]

*Oleh: Nico Syah Putra,

SUARAPEMBARUAN - Petani konvensional, yang mengelola sekitar 90% lahan pertanian dunia, berperan penting dalam keberlanjutan produksi pangan global. Namun, di balik kontribusi signifikan ini, mereka menghadapi tantangan besar. Sebagian besar petani ini hidup di pedesaan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kehidupan mereka kerap diwarnai oleh kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan akses terbatas terhadap sumber daya alam. Di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tantangan ini semakin diperburuk oleh tingginya prevalensi stunting pada anak-anak, sebuah krisis yang mengancam masa depan generasi muda di wilayah ini.

Stunting, kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, menjadi salah satu masalah utama kesehatan anak-anak di Indonesia. Data menunjukkan peningkatan signifikan prevalensi stunting di Sumatera Selatan, dari 19,3% pada tahun 2016 menjadi 22,8% pada tahun 2017. Keadaan ini mengundang perhatian pemerintah, yang melalui Peraturan Presiden RI Nomor 72 Tahun 2021, menetapkan target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% secara nasional melalui pendekatan multisektor.

Namun, perjuangan untuk mencapai target ini tidak mudah. Stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi pada anak-anak, tetapi juga oleh berbagai faktor lain, termasuk pola asuh yang tidak tepat, pendidikan orang tua yang rendah, pendapatan keluarga yang terbatas, dan minimnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

Baca Juga: TPP ASN Pemprov Bengkulu Akan Disesuaikan Standar Hidup Jakarta

Di Ogan Ilir, sebuah studi eksplanatif kuantitatif yang dilakukan pada tahun 2023 mengungkapkan gambaran yang lebih mendalam mengenai hubungan antara kondisi sosial ekonomi keluarga petani dan kejadian stunting pada anak-anak mereka. Hal inilah yang membuat Nico Syah Putra, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat topik terkait stunting dalam penelitian disertasinya.

Pendidikan dan Pengetahuan Ibu: Kunci Penentu Gizi Anak

Dalam studi yang melibatkan responden perempuan di Kabupaten Ogan Ilir, terungkap bahwa mayoritas ibu tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang sumber gizi untuk balita mereka. Sebanyak 61,4% ibu hanya berpendidikan setingkat SD, dan ini berdampak pada pemahaman mereka tentang gizi keluarga. Tabel 3 dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa 29 dari 44 responden tidak tahu cara menghitung kebutuhan kalori harian anak-anak mereka.

Ini berarti banyak anak-anak balita di wilayah ini mungkin tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pemenuhan gizi anak-anak.

Baca Juga: Rakor Literasi di Bengkulu, Gubernur Rohidin : Adaptasi Baik Melalui Membaca dan Menulis

Sebanyak 79,6% keluarga petani di Ogan Ilir hidup dengan pendapatan bulanan yang sangat terbatas, antara Rp 1.000.000 hingga Rp 2.000.000. Dengan pendapatan yang terbatas, keluarga-keluarga ini harus membuat keputusan sulit tentang prioritas pengeluaran rumah tangga. Meskipun mayoritas ibu sepakat untuk memberi makanan yang lebih bergizi saat memiliki uang, namun ketika keuangan menipis, kebutuhan lain sering kali diprioritaskan dibandingkan dengan makanan bergizi untuk balita.

Nico menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar ibu berusaha menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak mereka, pilihan makanan tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. terlihat bahwa banyak keluarga cenderung menyesuaikan jenis makanan yang disajikan sesuai dengan anggaran yang ada. Prioritas utama dalam keuangan keluarga sering kali tidak mencakup makanan bergizi bagi anak-anak, melainkan kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak.

Kebiasaan Konsumsi yang Berisiko

Halaman:

Tags

Terkini

UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional

Selasa, 2 Juni 2026 | 19:42 WIB