Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Sejumlah sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai menerapkan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal menyusul implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang dicanangkan Pemerintah Daerah DIY. Program tersebut mulai diterapkan secara bertahap di berbagai jenjang pendidikan sebagai upaya membentuk karakter pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman budaya, tata krama, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Pendidikan Khas Kejogjaan menjadi salah satu program prioritas Pemda DIY dalam penguatan identitas budaya di lingkungan pendidikan. Melalui program tersebut, sekolah didorong mengintegrasikan nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta ke dalam aktivitas belajar mengajar maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Didik Wardaya, mengatakan implementasi PKJ bertujuan membentuk karakter siswa yang berakar pada budaya lokal di tengah derasnya pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
“Pendidikan tidak hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepribadian siswa. PKJ hadir agar generasi muda tetap memahami nilai budaya, etika, dan jati diri Yogyakarta,” ujarnya di Yogyakarta, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, nilai-nilai yang dikembangkan dalam PKJ meliputi unggah-ungguh, gotong royong, toleransi, kedisiplinan, kepedulian sosial, hingga semangat menjaga budaya dan lingkungan. Implementasi program tersebut disesuaikan dengan karakter masing-masing sekolah tanpa mengubah kurikulum nasional yang berlaku.
Di sejumlah sekolah, penerapan pendidikan karakter berbasis budaya lokal dilakukan melalui pembiasaan penggunaan bahasa Jawa, kegiatan seni tradisional, hingga pengenalan filosofi budaya Yogyakarta dalam aktivitas sekolah sehari-hari. Beberapa sekolah juga mulai membiasakan siswa mengenakan pakaian adat tertentu pada hari khusus serta menggelar kegiatan tematik budaya secara rutin.
Kepala SMP Negeri 5 Yogyakarta, Sri Lestari, mengatakan sekolahnya mulai memperkuat pembelajaran berbasis budaya lokal sejak PKJ diperkenalkan oleh Pemda DIY. Menurutnya, pendidikan karakter menjadi penting karena sekolah tidak hanya bertugas mencetak siswa pintar, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki sopan santun dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Kami mencoba memasukkan nilai budaya dalam keseharian siswa, misalnya membiasakan salam dan tata krama kepada guru, penggunaan bahasa Jawa halus pada waktu tertentu, serta kegiatan seni tradisional,” katanya.
Ia menilai pendekatan budaya lebih mudah diterima siswa karena dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta. Selain itu, pendidikan karakter berbasis budaya dinilai mampu memperkuat identitas generasi muda di tengah pengaruh budaya luar yang semakin kuat.
Penerapan PKJ juga mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Rina Wahyuni, mengatakan pendidikan karakter berbasis budaya lokal dapat menjadi pondasi penting dalam membentuk ketahanan sosial generasi muda.
“Budaya lokal memiliki banyak nilai positif seperti empati, kebersamaan, dan penghormatan kepada orang lain. Kalau ditanamkan sejak dini melalui pendidikan, itu akan menjadi modal sosial yang kuat bagi anak-anak,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana sekolah mampu menerapkan pendidikan karakter secara konsisten, bukan sekadar simbolik atau seremonial. Ia menilai keterlibatan keluarga dan lingkungan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut.
Sementara itu, sejumlah siswa mengaku mulai terbiasa dengan berbagai pembiasaan budaya yang diterapkan sekolah. Salah seorang siswa SMA di Kota Yogyakarta, Nabila Putri, mengatakan kegiatan berbasis budaya membuat siswa lebih memahami tradisi dan tata krama masyarakat Jawa.
“Awalnya terasa berbeda karena harus lebih memperhatikan cara berbicara dan sikap, tapi lama-lama jadi terbiasa dan ternyata bagus juga untuk kehidupan sehari-hari,” katanya.
Hal serupa disampaikan orang tua siswa, Budi Santoso, yang menilai pendidikan karakter berbasis budaya lokal penting diterapkan di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang memengaruhi perilaku anak-anak.