Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Perbincangan soal perbedaan pola belajar Generasi Z dan Milenial ramai di media sosial setelah pernyataan ahli saraf asal Amerika Serikat, Dr. Jared Cooney Horvath, mencuat. Ia menilai Gen Z menjadi generasi pertama dalam sejarah modern yang menunjukkan penurunan capaian akademik dibanding pendahulunya.
Berdasarkan riset yang mengacu pada data tes akademik standar, Jared menyebut skor Gen Z lebih rendah dari generasi Milenial. Salah satu faktor utamanya adalah kebiasaan menatap layar gadget dalam durasi panjang sejak usia dini.
Menurutnya, generasi kelahiran 1997–2010 tumbuh bersama ponsel, tablet, dan laptop, bahkan menjadikan perangkat digital sebagai alat utama untuk mengerjakan tugas sekolah. Akibatnya, waktu layar menjadi aktivitas konstan, dengan lebih dari separuh waktu remaja dihabiskan di depan gawai.
Ia menjelaskan, secara biologis manusia belajar lebih efektif lewat interaksi langsung dan membaca mendalam, bukan sekadar menyimak ringkasan atau konten singkat di layar. Kebiasaan belajar instan dinilai membuat siswa hanya membaca sekilas tanpa benar-benar memahami materi.
Jared menilai pola ini berbeda dengan Milenial yang terbiasa membuka buku, mencari referensi fisik, hingga belajar berjam-jam demi menghadapi ujian. Tanpa usaha kognitif yang serius, menurutnya, potensi kecerdasan bisa tumpul.
Ia pun mengingatkan bahwa ketergantungan pada layar berisiko menurunkan kemampuan berpikir mendalam generasi muda saat ini.