Gen Z Global: Dari Medsos ke Jalanan, Gelombang Protes Muda Mengguncang Dunia

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Selasa, 23 September 2025 | 06:06 WIB
Menyoroti pola aksi demonstrasi di Nepal hingga Peru yang diinisiasi oleh para generasi Z atau Gen Z. (Unsplash.com/@Ehimetalor)
Menyoroti pola aksi demonstrasi di Nepal hingga Peru yang diinisiasi oleh para generasi Z atau Gen Z. (Unsplash.com/@Ehimetalor)


Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Gelombang aksi protes yang digerakkan generasi muda, atau kini dikenal sebagai Gen Z, semakin ramai mewarnai narasi politik global. Dari Nepal, Prancis, hingga kini merambah ke Peru, suara lantang anak muda menentang korupsi dan kebijakan yang dinilai menindas terus bergema.

Berdasarkan pantauan linimasa media sosial pada 22 September 2025, ribuan Gen Z turun ke jalan setelah sebelumnya berkumpul melalui seruan digital. Menurut laporan AFP, media sosial bukan hanya ruang ekspresi, tetapi menjadi senjata utama yang mampu memobilisasi massa dalam hitungan jam.

Peru: Dari Timeline ke Aksi Nyata

Di ibu kota Lima, ratusan pemuda memenuhi jalan pada Minggu, 21 September 2025, untuk menolak korupsi, kejahatan geng, hingga aturan baru soal dana pensiun. Aksi yang bermula damai itu berakhir ricuh ketika polisi menembakkan gas air mata, menyebabkan 18 orang terluka dan sejumlah lainnya ditangkap.

Seorang pelajar 18 tahun, Jonatan Esquen, menyebut gerakan ini sebagai kebangkitan politik anak muda. “Kini orang sadar, generasi muda bukan hanya aktif di media sosial, tapi juga di politik,” ujarnya.

Namun, rasa kecewa pada sistem politik Peru begitu kental. Seorang warga, Xiomi Aguilar, menyebut partai politik tak ubahnya mafia. Menurutnya, rakyat terus dikhianati oleh pemerintah dan parlemen yang hanya berpihak pada kepentingan kelompok tertentu.

Bentrokan juga melibatkan jurnalis. Fotografer media lokal Cesar Zamalloa mengaku terkena tembakan aparat, sementara Asosiasi Jurnalis Nasional Peru (ANP) mencatat sedikitnya enam pewarta terluka.

Filipina: Massa Melonjak Lewat Seruan Digital

Di Manila dan Quezon City, pola serupa terjadi. Ribuan anak muda menggelar aksi “Baha sa Luneta: Aksyon laban sa Korapsyon” pada Minggu, 21 September 2025. Awalnya berjumlah sekitar 4.000 orang, massa membengkak menjadi 15.000 hanya dalam satu jam berkat seruan cepat di media sosial.

Mereka mengecam skandal korupsi proyek pengendalian banjir. Upaya menuju Istana Malacanang dihadang polisi dengan gas air mata, disertai penangkapan puluhan demonstran muda.

Aktivis muda Sarah Elago menegaskan bahwa korupsi dan dinasti politik tetap bercokol meski puluhan tahun berlalu. “Apakah kita akan terus membiarkan para pencuri berkuasa?” serunya yang disambut pekikan “Tidak!” dari ribuan massa.

Nepal dan Prancis: Jejak Awal Gerakan

Sebelumnya, pola serupa juga terlihat di Nepal dan Prancis. Di Nepal, pemblokiran media sosial justru memicu perlawanan yang berujung tumbangnya perdana menteri. Sedangkan di Prancis, Gen Z tampil sebagai barisan depan dalam menuntut perubahan politik.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X