Dengan penuh kesabaran, para mahasiswa membantu siswa menggali keresahan dan emosi menjadi bait-bait bermakna. Meski awalnya bingung, para siswa akhirnya berhasil menuangkan isi hati mereka dalam bentuk puisi. Semua karya itu kemudian dihimpun menjadi sebuah antologi sederhana—tanda bahwa setiap suara layak untuk disuarakan.
Dr. Sukarjo Waluyo menyampaikan kebanggaannya terhadap hasil program ini. Ia menyebutkan bahwa melalui kegiatan kreatif seperti ini, nilai-nilai lokal seperti kebersamaan dan keberanian bisa ditransformasikan menjadi pengalaman pembelajaran yang bermakna.
“Permainan tradisional dan puisi sama-sama menyimpan nilai kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu,” ujarnya.
Program KKN UNDIP disambut antusias oleh siswa dan guru MTs Al-Burhan. Ahmad, seorang siswa asal Purwokerto, mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap kegiatan ini.
“Ini pertama kalinya saya ikut kegiatan seperti ini. Kegiatannya seru dan bermanfaat, seperti belajar cuci tangan yang benar dan cara menghindari perundungan.”
Kepala Sekolah, Solikin, pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN memberi dampak positif yang nyata. Ia berharap hubungan antara sekolah dan perguruan tinggi bisa terus berlanjut bahkan berkembang menjadi program pengajaran berkelanjutan.
“Saya berharap ke depannya ada mahasiswa yang bisa menjadi pengajar tetap di Al-Burhan,” ungkapnya penuh harap.
Apa yang dimulai dari secarik kertas kosong kini telah menjelma menjadi kumpulan puisi yang penuh makna. Lebih dari sekadar produk pelatihan, karya-karya itu adalah bukti bahwa setiap anak memiliki potensi untuk mengekspresikan diri dan melihat dunia dengan cara yang lebih dalam. Dan semua itu dimulai dari satu langkah kecil: menulis.*