Menulis untuk Menyala: Puisi dan Transformasi di MTs Al-Burhan

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 25 Juni 2025 | 15:22 WIB



Semarang, SUARA PEMBARUAN - "Puisi bisa menjadi cara lain untuk memahami dunia," ujar Billy Collins dalam sebuah kutipan inspiratif.

Kalimat itu menjadi pengantar sempurna untuk menggambarkan pengalaman berbeda di MTs Al-Burhan, sebuah sekolah berbasis pesantren yang tak terduga menjadi lokasi penyemaian semangat sastra bagi generasi muda.

Puisi bukan hanya soal rima atau diksi indah, melainkan cara baru untuk melihat, merasa, dan menyuarakan dunia dalam bahasa yang jujur dan menyentuh.

Sehari-hari, siswa MTs Al-Burhan bergulat dengan rutinitas akademik dan kegiatan pesantren. Kepenatan tentu tak bisa dihindari. Namun, pada suatu Jumat yang berbeda, hadir sekelompok mahasiswa berjas biru kehijauan yang membawa ‘angin segar’ ke tengah kesibukan itu.

Mereka adalah Tim 14 KKN Tematik Universitas Diponegoro (UNDIP), yang datang membawa misi pengabdian berbasis pendidikan dan budaya. Salah satu agenda yang mereka bawa adalah workshop puisi—sebuah kegiatan yang mungkin terdengar tidak biasa, namun berhasil menyalakan cahaya baru di benak para siswa.

Mengapa puisi? Sebuah pertanyaan yang muncul ketika pelatihan ini diperkenalkan. Bukankah puisi cukup dibahas dalam pelajaran bahasa Indonesia? Namun ternyata, menulis puisi menjadi cara efektif untuk melambatkan waktu—sebuah ‘rem’ dari derasnya rutinitas yang membuat banyak hal luput dari perhatian.

Puisi memberi ruang bagi siswa untuk merefleksi, mengenali, dan meresapi hal-hal kecil di sekitar mereka yang sering terabaikan. Dengan menggali pikiran dan perasaan sendiri, mereka belajar mengekspresikan diri secara jujur dan penuh makna.

Dari Kunjungan Tak Terencana Menjadi Pengabdian Penuh Arti
Awalnya, MTs Al-Burhan hanya sekolah yang “ditemukan” secara tidak sengaja oleh para mahasiswa KKN saat berkeliling mencari lokasi untuk melaksanakan program pengabdian.

Namun, pertemuan dengan Bapak Solikin, Kepala Sekolah Al-Burhan, membuka jalan menuju kolaborasi yang bermakna. “Sekolah kami memiliki dua jenjang: MTs dan MA, dan karena berbasis pesantren, putra dan putri ditempatkan secara terpisah,” jelasnya.

Dari obrolan hangat itu, para mahasiswa menemukan satu hal yang menyentuh hati: rendahnya minat dan kesadaran siswa terhadap sastra dan seni bahasa.

Berkaca pada minimnya minat baca nasional, para mahasiswa merasa terpanggil untuk menghadirkan pendekatan kreatif—salah satunya melalui puisi.

Dengan dorongan dari program hibah Iptek untuk Desa Binaan UNDIP (IDBU) yang dipimpin Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., dan Drs. M. Hermintoyo, M.Pd., mereka membangun program KKN Tematik yang bukan hanya edukatif tapi juga inspiratif.

Workshop Puisi

Kegiatan ini menjadi bagian dari tema besar “Sekolah Ramah Lingkungan, Sehat, dan Berbudaya.” Mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya memimpin sesi pelatihan dengan mengajak siswa menelusuri lingkungan mereka sendiri sebagai sumber inspirasi.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional

Selasa, 2 Juni 2026 | 19:42 WIB
X