Mengangkat tokoh Tumenggung Bahurekso—tokoh pemimpin militer dan spiritual masa Mataram Islam—novel ini menjadi semacam napak tilas kebesaran pesisir utara Jawa, lengkap dengan ketegangan diplomasi antara Mataram dan VOC. Melalui karakter ini, Gunoto Saparie mengajak pembaca muda untuk menengok kembali kejayaan lokal sebagai sumber semangat dan kebanggaan identitas.
Sukarjo menilai bahwa kedua novel tersebut merupakan contoh nyata bagaimana teks-teks warisan dan sejarah pesisir dapat diolah menjadi sastra modern yang komunikatif dan menggugah kesadaran identitas. Ia juga menekankan bahwa dalam konteks demokratisasi kebudayaan, ekspresi-identitas seperti ini menjadi semakin penting.
Sastra Pesisiran dan Isu Identitas Budaya
Mengutip gagasan Stuart Hall, Sukarjo menjelaskan bahwa identitas adalah konstruksi sosial yang terus bergerak dan mengalami redefinisi sesuai dengan konteks zaman. Dengan kata lain, narasi-narasi lokal seperti dalam novel Kuntul Nucuk Mbulan dan Bau menjadi upaya literer untuk merumuskan identitas kultural yang lebih otentik dan dinamis.
Proses pembentukan identitas melalui sastra—sebagaimana dijelaskan Hall lewat konsep sirkuit budaya—menunjukkan bahwa warisan budaya tak hanya diwariskan, melainkan dimaknai ulang, disesuaikan, dan dihidupkan kembali sesuai kebutuhan zamannya.
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa Sastra Indonesia UNS diharapkan semakin terbuka terhadap potensi kebudayaan lokal, khususnya dari wilayah pesisir, sebagai lahan subur untuk pengembangan karya sastra yang bermakna sekaligus memperkuat jati diri bangsa.*