Merawat Akar Budaya Pesisir: Sastra Jawa Pantura sebagai Cermin Identitas dan Inspirasi Masa Kini

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 25 Juni 2025 | 14:34 WIB
DR Sukarjo Waluyo
DR Sukarjo Waluyo

Solo, SUARA PEMBARUAN - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, melalui Program Studi Sastra Indonesia, menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Sastra dan Manuskrip Pesisiran” dengan menghadirkan dua narasumber utama: Moh. Ali, S.S., M.A. Min., Ph.D., pakar filologi dari Universitas Airlangga, dan Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., dosen dan peneliti sastra pesisir dari Universitas Diponegoro. Kuliah umum ini diikuti dengan antusias oleh ratusan mahasiswa yang memadati Aula Fakultas Ilmu Budaya UNS.

Moh. Ali mengupas manuskrip pesisiran sebagai pertemuan dua tradisi besar: Arya Cosmopolis (berbasis budaya dan bahasa Sansekerta) dan Arabian Cosmopolis (pengaruh Arab).

Ia menjelaskan bagaimana dua pengaruh tersebut membentuk corak khas naskah-naskah pesisir Jawa. Dalam paparannya, ia menyoroti peran aksara Arab dan budaya Islam dalam mengonstruksi identitas budaya masyarakat pesisiran.

Sementara itu, Sukarjo Waluyo membahas topik “Cerita Rakyat dan Manuskrip Jawa Pesisir sebagai Sumber Inspirasi Produksi Sastra Kekinian”.

Ia menyatakan bahwa sastra pesisiran memiliki karakter kuat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keislaman, mengingat wilayah ini merupakan kawasan yang lekat dengan tradisi santri.

Dalam presentasinya, Sukarjo menekankan kekayaan cerita rakyat, babad, serat, dan manuskrip yang hidup di wilayah pesisir utara Jawa (Pantura), yang masih relevan dan mampu menginspirasi karya sastra kontemporer.

Sastra pesisiran memiliki kekhasan tersendiri, antara lain penggunaan bahasa yang lebih lugas dan ekspresif dibandingkan dengan bahasa Jawa standar yang lebih halus.

Hal ini merefleksikan karakter masyarakat pesisir yang terbuka dan langsung dalam komunikasi. Karya-karya sastra pesisiran, seperti suluk, syair, babad, dan serat, tak hanya mencerminkan nilai-nilai spiritual dan tradisi lokal, tetapi juga menjadi sarana refleksi sosial dan identitas budaya.

Sukarjo mengungkapkan optimisme terhadap masa depan sastra pesisiran. Menurutnya, potensi budaya lokal di pesisir utara Jawa sangat besar untuk terus dikembangkan dan dijadikan sumber inspirasi kreatif. Hal ini juga tergambar dalam dua novel yang ia kaji, yaitu Kuntul Nucuk Mbulan karya Sahal Japara dan Bau karya Gunoto Saparie.

Kuntul Nucuk Mbulan:
Novel ini mengeksplorasi spiritualitas dan pencarian jati diri seorang santri bernama Paejan di Desa Kajen.

Terinspirasi dari wejangan Syekh Mutamakkin, tokoh spiritual besar abad ke-18 dari Kajen, novel ini mengangkat makna dari simbol-simbol seperti “Kuntul Nucuk Mbulan” (burung kuntul yang mematuk rembulan) dan “Sing Pendhitku Ngusap Ing Mbun” (guru yang menyentuh embun) yang terukir dalam ornamen Masjid Kajen. Kedua simbol ini ditafsirkan sebagai ajakan untuk hidup bersahaja, rendah hati, serta pentingnya restu guru dalam menuntut ilmu.

Karya ini mengangkat folklor lokal dan menjadikannya narasi modern yang relevan dengan kehidupan para santri masa kini. Dalam proses kreatifnya, penulis melakukan reinterpretasi terhadap simbol-simbol sakral dan menghadirkannya dalam bahasa populer pesantren.

Novel ini menjadi ruang refleksi atas warisan budaya yang kerap hanya diwariskan tanpa pemaknaan ulang, dan mengubahnya menjadi karya baru yang segar dan kontekstual.

Bau:
Berbeda dengan Kuntul Nucuk Mbulan yang berpusat pada tradisi santri, Bau lebih menekankan aspek sejarah dan kebesaran masa lalu wilayah Kaliwungu dan Kendal.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional

Selasa, 2 Juni 2026 | 19:42 WIB
X