Surabaya, SUARA PEMBARUAN - Tim dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, berhasil meraih Gold Winner pada ajang Chemical Industrial Downstream Challenge (CIDC) 2025. Pihak penyelenggara, PT Petrokimia Gresik, menempatkan ITS pada posisi Terbaik, kategori Non-Student International Competition.
Tim dosen yang beranggotakan Reza Aulia Akbar ST MT MBA dan Satrio Samudro Aji Basuki ST MT MBA tersebut mengangkat inovasi yang diberi nama BioSweetPEF. Proyek ini secara inovatif memanfaatkan limbah agroindustri, yakni tetes dan ampas tebu yang diproses menjadi bioplastik ramah lingkungan.
“Melalui proses kimia yang canggih, limbah tebu tersebut diubah menjadi polyethylene furanoate (PEF),” tutur Reza di Kampus ITS, Rabu (10/9/2025).
Dalam proses pengembangan inovasi ini, tim ITS berfokus pada perancangan sistem manufaktur, alur produksi yang efisien, manajemen proyek, hingga kelayakan finansial. Tim ini juga menggandeng salah satu peneliti Indonesia Nurwarrohman Andre Sasongko SSi MSc yang sedang studi di Pukyong National University, Korea Selatan.
“Kami memerlukan ahli di bidang kimia untuk sintesis material guna memastikan proses kimia berjalan efektif,” jelas Reza.
Dikatakan, inovasi BioSweetPEF ini mengintegrasikan penggunaan produk sampingan asam klorida dari PT Petrokimia Gresik. Integrasi tersebut menghasilkan peran yang sangat luas dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Mulai dari penyelesaian masalah limbah industri hingga menawarkan alternatif bioplastik yang ramah lingkungan, sehingga menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Dari sisi ekonomi, PEF yang dihasilkan menunjukkan bahwa proyek ini memiliki profil finansial yang kuat dan menjanjikan. PEF yang merupakan bioplastik memiliki potensi yang luas di sektor kemasan premium untuk makanan, minuman, dan kosmetik. Keunggulan ini turut memberikan tim dosen ITS sebuah keuntungan sebagai yang pertama memasuki pasar bioplastik PEF di Indonesia dan Asia Tenggara.
Keberhasilan tim dosen ini tidak hanya menjadi prestasi personal, tetapi juga membawa pesan inspiratif untuk sivitas akademika ITS. Reza menegaskan, kolaborasi riset dengan industri ini tidak hanya berhenti pada ajang kompetisi melainkan dapat berlanjut ke tahap implementasi.
"Sebagai contoh, ide ini bisa menjadi embrio yang dilanjutkan menjadi program pengabdian masyarakat atau bahkan komersialisasi," ungkapnya.
Prestasi tim dosen DTSI ITS ini juga turut menyukseskan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-12. Inovasi BioSweetPEF ini mewujudkan implementasi konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab dengan mengubah limbah agroindustri menjadi produk bioplastik bernilai tinggi. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi baru, tetapi juga secara aktif mengurangi limbah.
Artikel Terkait
Bima Surya Samudra, Mahasiswa ITS, Dinyatakan Lulus tanpa Skripsi
Profesor Pertama FKK ITS Dorong Inovasi Pengolahan Sinyal Otak
Mahasiswa ITS Ciptakan Robot Pendeteksi Sumbatan Gorong-gorong