Menjelajahi Rasa dan Pesona Alam Sumatera Selatan: Antara Sungai, dan Sejarah

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Jumat, 2 Mei 2025 | 15:11 WIB
Air Terjun di Lahat yang mempesona. [ Foto: Dok Kabupaten)
Air Terjun di Lahat yang mempesona. [ Foto: Dok Kabupaten)

Sumatera Selatan bukan sekadar tanah tua yang dilintasi Sungai Musi. Ia adalah tempat di mana sejarah menyapa di setiap jembatan, dan cita rasa berbisik di setiap suapan. Di balik piring seruit, terpatri kisah kerajaan, perjuangan, dan cinta tanah air.”

Sumatera Selatan, jantung yang berdetak tenang di pulau Sumatera, bukan hanya soal kuliner atau keindahan alam. Ia adalah lembaran sejarah yang menunggu dibaca kembali. Setiap sungai, bukit, dan dapur rakyatnya menyimpan kisah — tentang masa silam yang gemilang, tentang cinta pada budaya, dan tentang rakyat yang bertahan di antara arus zaman.

1. Palembang: Pempek dan Sriwijaya yang Hilang Tapi Abadi

Di tepian Sungai Musi, berdiri sebuah kota yang usianya lebih tua dari Jakarta atau bahkan Malaka. Di sinilah, pada abad ke-7, lahir Kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang menguasai jalur dagang internasional dan menyebarkan cahaya peradaban Buddha. (Buku Djohan Hanafiah-red).

Baca Juga: Prabowo Bangga Melihat Lahan Rawa Jadi Sawah Produktif di Sumsel

Konon, di balik aroma pempek yang kini melegenda, ada jejak sejarah yang hampir terlupakan. Di masa Sriwijaya, para pedagang dari Tiongkok dan India kerap bersandar di pelabuhan tua Palembang. Mereka membawa tepung sagu dan ikan asin, yang akhirnya oleh warga lokal diolah menjadi makanan sederhana: cikal bakal pempek. Cuko pun lahir dari racikan rempah-rempah pedas sebagai penghangat tubuh para pelaut yang datang dari jauh.

Kisah kecil 

“Di sebuah rumah rakit tua, seorang nenek masih ingat bagaimana ibunya dahulu membuat pempek tanpa alat modern. Sambil mengaduk adonan dengan tangan, sang ibu bercerita tentang nenek moyangnya yang berdagang dari Sungai Musi hingga ke Semenanjung Malaya. Kini, si nenek duduk sendiri, namun saat cucunya mencocol pempek ke dalam cuko, ia merasa sejarah tidak pernah benar-benar hilang — hanya berpindah dari mulut ke hati.” (Sumber Sejarah Palembang- Buku Djohan-red)

2. Sekayu dan Seruit: Tradisi yang Tak Pernah Retak

Di Musi Banyuasin, tradisi bernama seruit hidup turun-temurun. Seruit bukan sekadar makanan — ia adalah lambang persatuan dan semangat musyawarah. Dulu, ketika rakyat berkumpul untuk membahas sawah, jembatan, atau perahu, mereka tak pernah duduk tanpa seruit di tengah-tengah.

Baca Juga: Lion Air Terbang Perdana Umroh Awal Musim Palembang – Madina Tanpa Transit

Kisah nyata dari tokoh lokal: “Haji Umar, tokoh adat di Sekayu, pernah berkata: ‘Kalau seruit sudah dihidang, semua pertengkaran berhenti. Tak enak rasanya makan sambal tempoyak sambil marah-marah.’”

Seruit telah menjadi penanda harmoni sosial. Dalam masyarakat Musi, makan bersama adalah bentuk ibadah. Dan ketika satu piring seruit dihidangkan, itu berarti hati siap untuk menerima dan memaafkan. (Adat Sumsel-red)

3. Lahat dan Pagaralam: Jejak Batu dan Doa dari Gunung

Kabupaten Lahat menyimpan ribuan batu megalitikum — bukti bahwa manusia telah lama hidup dan berdoa di tanah ini sejak ribuan tahun silam. Ukiran di batu itu menggambarkan manusia, binatang, dan doa. Mungkin, mereka adalah simbol dari kebersamaan antara manusia dan alam, jauh sebelum istilah “ekologi” dikenal dunia.

Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah

Di Pagaralam, kisah pejuang dan ulama pun tak kalah menarik. Salah satunya adalah KH. Muhammad Dahlan, seorang ulama yang membawa Islam dan pendidikan ke dataran tinggi, mengajarkan bahwa kopi bukan hanya untuk diminum, tapi bisa jadi sarana dakwah. Beliau biasa mengundang penduduk ngopi sambil mengaji — tradisi ini bertahan hingga kini. 

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ke Candi Prambanan, Rekreasi dan Memahami Sejarah

Kamis, 30 April 2026 | 19:32 WIB
X