Jokowi berhasil menggunakan ISA untuk menciptakan legitimasi politiknya, tetapi langkah ini melemahkan institusi-institusi ideologis seperti partai politik dan koalisi.
RSA digunakan untuk mengendalikan oposisi dan memastikan stabilitas kekuasaannya, meskipun hal ini merusak demokrasi substantif.
Untuk melawan ancaman ini, rakyat, terutama pemuda dan mahasiswa, harus menjadi subjek yang sadar ideologi.Baca Juga: Angka Golput Tinggi, Itu Kurang Bagus
Mereka harus membangun gerakan kolektif yang mampu menantang hegemoni ideologi Jokowi dan mengembalikan demokrasi Indonesia pada jalur yang lebih inklusif dan substantif.
Hanya dengan begitu, ISA dan RSA dapat berfungsi sesuai dengan tujuan awalnya: melayani rakyat, bukan kekuasaan individual.*
Penulis Alumni Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan Aktivis NU