Manusia Kota, Manusia Pekerja
Manusia kota cenderung sibuk dan berfokus terhadap pekerjaan-pekerjaan mereka. Industrialisasi, materialisme, hedonisme, dan konsumerisme pada saat yang sama telah memupuk watak individualisme. Beberapa hal tersebut telah menguatkan persepsi bahwa kota acapkali diidentikkan sebagai tempat yang penuh dengan suasana yang sebenarnya sangat kering secara ‘kejiwaan’.
Hal-hal yang bernuansa spiritual dan rohaniah pada akhirnya menjadi hal yang sangat dirindukan. Mudik Lebaran, dengan demikian, bisa menjadi semacam obat bagi kekeringan jiwa orang kota untuk kembali menengok desa dan kedamaian alamnya. Mudik memberikan banyak manfaat positif selain juga untuk tujuan silaturahmi dan merayakan Lebaran.
Dalam perkembangannya, mudik mengalami pergeseran tidak hanya sebagai cara untuk kepentingan jiwa, tetapi juga sebagai sarana rekreasi dan memenuhi kebutuhan akan hiburan. Perayaan mudik Lebaran selanjutnya banyak didiskusikan terkait dengan pergerakan ekonomi di daerah. Dalam waktu sesaat, ada aliran uang dari kota ke daerah atau desa-desa. Mudik dalam konteks ekonomi menunjukkan adanya perputaran uang yang tidak sedikit.
Agus Maladi Irianto dalam artikel “Mudik dan Keretakan Budaya” dalam Jurnal Humanika (Vol 15, No 9: Juni 2012) mengungkapkan bahwa terkait fenomena mudik Lebaran dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, fenomena mudik di Indonesia telah menjadi tradisi dianggap sebagai gerakan paling efektif menyalurkan dana ke daerah.
Kedua, tradisi mudik terjadi akibat migrasi dari desa ke kota yang kemudian berkembang menjadi urbanisasi yang tak terkendali. Ketiga, tradisi mudik memuat dimensi spiritual, psikologis, dan sosial yang harus disikapi mengimplikasikan suatu heteronomi kultural. Para pemudik berada pada sisi tarik-menarik antara situasi dan nilai-nilai baru dengan yang lama.
Keempat, tradisi mudik menggambarkan masih kuatnya ikatan primordial masyarakat di perkotaan, padahal nilai-nilai di perkotaan seharusnya lebih berwatak mondial.
Sebagai peristiwa budaya, mudik adalah konstruksi ritual dan tradisi dalam membentuk identitas kolektif masyarakat pendukungnya. Perjalanan panjang dan heroik para pemudik dari berbagai kota untuk pulang ke kampung halaman tentu saja melampaui dari sekadar praktik perpindahan fisik dan keberadaan tempat di mana mereka berada. Orang Jawa juga mengenal istilah tetirah.
Tetirah adalah salah satu konsep kearifan lokal (local genius) sebagai pencermin identitas budaya masyarakat Jawa. Orang Jawa yang bekerja dan hidup di kota tetap memiliki hubungan dengan desa asal mereka, tetapi tidak bisa pulang setiap waktu. Bagi mereka, desa laksana “pintu imajinatif” yang memiliki jadwal kapan orang kota bisa memasukinya, seperti momen Idul Fitri, nyadran, atau sedekah desa. Bagi orang kota, mudik Idul Fitri juga sering dijadikan saat untuk tetirah singkat dan momentum “kembali ke titik nol.”
Tidaklah aneh jika mudik sesungguhnya bisa dimaknai juga sebagai imajinasi keseimbangan orang rantau dalam menjalani permasalahan kehidupannya di kota yang selalu disibukkan dengan rutinitas, target, dan kesibukan akan pekerjaannya.*
Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., Ketua Departemen Susastra, FIB UNDIP