Oleh: Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum.
Mudik bisa dikatakan perjalanan orang-orang yang mengadu peruntungan di kota untuk kembali ke kampung asalnya. Tradisi tahunan ini adalah sebuah fenomena sosial yang mencerminkan lapisan budaya, nilai, serta identitas kolektif yang terbentuk dalam masyarakat. Dalam perspektif budaya, mudik Lebaran dipahami sebagai manifestasi dari konsep khas dan bisa kita maknai sebagai ruang budaya masyarakat Indonesia.
Perayaan Lebaran merupakan ritual keagamaan sekaligus menjadi sebuah peristiwa budaya yang sangat dinantikan, dihormati, dan mengandung signifikansi budaya dalam realitas kehidupan sosial masyarakat di Indonesia.
Manusia acapkali disebut sebagai makhluk homo festivus, artinya makhuk yang senang menginisiasi dan mengkreasi bermacam-macam festival atau perayaan. Satu di antaranya adalah festival yang bernuansa kegamaan, seperti perayaan di sekekitar bulan Ramadhan dan Hari Lebaran. Di dalamnya terdapat motif dan pola yang relatif serupa dan berulang secara massif.
Selain itu, manusia memiliki sifat sebagai makluk pengembara atau pengelana (suka berziarah). Manusia adalah makhuk yang gemar melakukan peristiwa perjalanan, di antaranya untuk sekadar jalan-jalan menikmatati panorama atau juga rekreasi. Saat menjelang Hari Lebaran, masyarakat secara bersama-sama tentu akan merasa perlu merayakan hari raya. Jalan-jalan akan menjadi ramai dengan beragam jenis kendaraan dibandingkan dengan hari biasanya.
Pada saat yang sama, kita serasa disadarkan kembali tentang hubungan desa-kota yang pada masa lalu banyak terdapat ketimpangan. Meski setelah era reformasi, hal ini sudah mengalami peubahan signifikan dengan pembangunan daerah yang mendapatkan perhatian dan pendanaan yang jauh lebih baik hingga ke pelosok desa.
Pada masa lalu, faktor ekonomilah yang banyak memengaruhi seseorang berpindah ke kota. Penghidupan di desa yang dirasa kurang mencukupi, semakin sempitnya lahan pertanian, dan semakin sedikitnya pemuda yang ingin bertani membuat kota menjadi daya tarik sendiri bagi penduduk di desa. Pesatnya kemajuan ekonomi dan industrialisasi telah membutuhkan dan menyerap lebih banyak tenaga kerja yang sebagian besar juga didatangkan dari desa. Hal inilah yang menarik banyak orang desa untuk berurbanisasi ke kota.
Artikel Terkait
1.088 Warga asal Jateng Mudik Gratis Naik Kereta Api
Arus Mudik Kembali Meningkat, Polda Jateng Berlakukan One Way Lokal
Pos Terpadu, Sinergitas TNI Polri Layani Masyarakat Selama Arus Mudik 2024
Gandeng Pemprov Jateng, Semen Gresik Sumbang 5 Bus Berangkatkan 250 Orang Mudik Gratis dari Jakarta ke Jawa Tengah
Mudik Gratis Naik Expres Bahari ke Kendari