Mudik Idul Fitri, Tetirah Singkat Kembali ke Titik Nol

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Sabtu, 13 April 2024 | 21:31 WIB

Oleh: Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum.

 

Mudik bisa dikatakan perjalanan orang-orang yang mengadu peruntungan di kota untuk kembali ke kampung asalnya. Tradisi tahunan ini adalah sebuah fenomena sosial yang mencerminkan lapisan budaya, nilai, serta identitas kolektif yang terbentuk dalam masyarakat. Dalam perspektif budaya, mudik Lebaran dipahami sebagai manifestasi dari konsep khas dan bisa kita maknai sebagai ruang budaya masyarakat Indonesia.

 

Perayaan Lebaran merupakan ritual keagamaan sekaligus menjadi sebuah peristiwa budaya yang sangat dinantikan, dihormati, dan mengandung signifikansi budaya dalam realitas kehidupan sosial masyarakat di Indonesia.

 

Manusia acapkali disebut sebagai makhluk homo festivus, artinya makhuk yang senang menginisiasi dan mengkreasi bermacam-macam festival atau perayaan. Satu di antaranya adalah festival yang bernuansa kegamaan, seperti perayaan di sekekitar bulan Ramadhan dan Hari Lebaran. Di dalamnya terdapat motif dan pola yang relatif serupa dan berulang secara massif.

 

Selain itu, manusia memiliki sifat sebagai makluk pengembara atau pengelana (suka berziarah). Manusia adalah makhuk yang gemar melakukan peristiwa perjalanan, di antaranya untuk sekadar jalan-jalan menikmatati panorama atau juga rekreasi. Saat menjelang Hari Lebaran, masyarakat secara bersama-sama tentu akan merasa perlu merayakan hari raya. Jalan-jalan akan menjadi ramai dengan  beragam jenis kendaraan dibandingkan dengan hari biasanya. 

 

Pada saat yang sama, kita serasa disadarkan kembali tentang hubungan desa-kota yang pada masa lalu banyak terdapat ketimpangan. Meski setelah era reformasi, hal ini sudah mengalami peubahan signifikan dengan pembangunan daerah yang mendapatkan perhatian dan pendanaan yang jauh lebih baik hingga ke pelosok desa. 

 

Pada masa lalu, faktor ekonomilah yang banyak memengaruhi seseorang berpindah ke kota. Penghidupan di desa yang dirasa kurang mencukupi, semakin sempitnya lahan pertanian, dan semakin sedikitnya pemuda yang ingin bertani membuat kota menjadi daya tarik sendiri bagi penduduk di desa. Pesatnya kemajuan ekonomi dan industrialisasi telah membutuhkan dan menyerap lebih banyak tenaga kerja yang sebagian besar juga didatangkan dari desa. Hal inilah yang menarik banyak orang desa untuk berurbanisasi ke kota. 

 

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X