Oleh : Putri Ayu
Salah satu faktor produksi yaitu sumber daya alam atau dikenal dengan resources. Negara-negara yang menggunakan resources dalam mengelola input untuk menghasilkan produksi memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi, penggunaan sumber daya alam tanpa memperhatikan keadaan lingkungan bisa menyebabkan resiko berupa polusi atau pencemaran. Semakin tinggi konsumsi dari resources yang digunakan semakin tinggi resiko pencemaran yang akan terjadi.Baca Juga: 18 Agustus Bakal Jadi Libur Nasional, Pemerintah Segera Terbitkan SKB Tiga Menteri
Menurut Perman (2003), negara negara berkembang akan menunjukkan bahwa tingginya pendapatan perkapita maka akan semakin tinggi pencemaran yang terjadi. Sedangkan negara maju menunjukkan semakin tingginya pendapatan perkapita akan semakin menurunnya pencemaran yang terjadi, hal ini disebabkan karena negara maju sudah memertimbangkan penggunaan energy terbarukan, energi rendah karbon, teknologi rendah karbon dalam menjalankan perekonomian.Baca Juga: Sidang Gugatan UU Guru dan Dosen di MK Ditunda, Sri Hartono: Kecewa, Tapi Momentum Menyusun Argumen Lebih Matang
Ourworlddata.org (2025) memaparkan data emisi CO2 pada berbagai negara. Terlihat negara yang paling tinggi emisinya adalah negara China sejak tahun 2000, yang mana sebelumnya diduduki oleh Amerika Serikat. Negara India menduduki posisi ketiga dan menunjukkan tren meningkat di setiap tahun sejak tahun 1980. Begitu juga negara Indonesia menunjukkan tren positif. Negara maju lain seperti Jerman, Inggris dan Perancis menunjukkan adanya penurunan dalam emisi Karbon CO2. Baca Juga: Uji DNA Lisa Mariana dan Ridwan Kamil Dijadwalkan, Pengacara Belum Pastikan Keduanya akan Bertatap Muka
Kita bisa melihat bahwa emisi karbon CO2 sudah beralih ke negara berkembang terutama di Asia.
Penulis mau menyampaikan ada tiga kemungkinan faktor yang mempengaruhi emisi CO2. Pertama, renewable energy. Cukup banyak riset yang menunjukkan bahwa energi terbarukan atau renewable energy signifikan negatif mempengaruhi CO2 diantaranya Azam et al., (2021), Yuping et al., (2021), Njoh, (2021), dan Saidi & Omri, (2020). Akan tetapi, tidak semua hasil menunjukkan signifikan negatif, penelitian dari Grodzicki & Jankiewicz (2022), Nathaniel & Iheonu (2019) dan Pata (2018) menunjukkan hasil tidak signifikan antara renewable energi dengan emisi karbon CO2. Bahkan, Jebli et al., (2020) menunjukkan renewable energi signifikan dan positif terhadap emisi CO2 di Afrika Utara.Baca Juga: Polemik Royalti Lagu di Kafe, Istana: Pemerintah Akan Turun Tangan Cari Solusi Terbaik
Emisi CO2 dan renewable energi di Indonesia tahun 1990- 2023 di world bank menunjukkan hubungan terbalik antara Emisi CO2 dan renewable energi. Semakin tinggi renewable energy yang digunakan Indonesia semakin rendah emisi karbon. Akan tetapi, terdapat berapa tahun yang menunjukkan fenomena hubungan berbanding lurus diantaranya tahun 1998, 2003, 2008 dan 2013. Sehingga perlu kajian empiris lebih dalam bagaimana keterkaitan emisi CO2 dengan renewable energy.Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Pangan di Provinsi Yogyakarta
Kedua, sumber daya manusia mendorong pengurangan biaya, kemajuan teknologi, sehingga dapat membantu mengatasi hambatan produksi dan penggunaan energi terbarukan, yang pada gilirannya mengurangi emisi CO2 (Romer, 1991). Human capital signifikan negatif terhadap CO2, semakin tinggi modal manusia semakin rendah emisi karbon suatu daerah. Hal ini diungkapkan oleh Yoo et al., (2024), Broadstock et al., (2016), Li & Haneklaus (2021); Sarkodie et al., (2020), dan Zhang et al. (2024). Berbeda dengan itu, Gnangoin et al., (2022) menunjukkan hasil bahwa human capital signifikan positif terhadap CO2.Baca Juga: Jaga Kondusifitas Keamanan Selama PSU Papua, Kabid Humas: Netralitas Polri Harga Mati
Emisi CO2 dan human capital index berdasarkan tingkat lama sekolah dan pengembalian di Indonesia tahun 1990-2023 dari world bank, menunjukkan hasil pergerakan positif antara emisi CO2 dan modal manusia dari tahun 1990- 2010. Akan tetapi, semenjak tahun 2010 menunjukkan penurunan dari modal manusia yang diiringi dengan peningkatan emisi CO2. Baca Juga: Kepala Kanreg VII BKN Temui Gubernur Bengkulu Bahas Penerapan Sistem Merit ASN
Berdasarkan literatur sebelumnya modal manusia diharapkan bisa menurunkan emisi karbon, akan tetapi berdasarkan tren data menunjukkan modal manusia di Indonesia mengalami penurunan bahkan pada saat 2010 ke atas CO2 masih mengalami peningkatan. Sehingga perlu adanya kajian empiris mendalam mengenai pengaruh modal manusia dan emisi CO2.Baca Juga: Pemkot Bengkulu Perkuat Sinergi Layanan Hukum dan HAM
Ketiga, pendapatan nasional. Abbasi et al., (2021), Hasanov et al. (2023), dan Gnangoin et al., (2022) menunjukkan pendapatan nasional berhubungan positif terhadap CO2. Tetapi Mirziyoyeva & Salahodjaev (2022) menunjukkan hasil negatif. Sedangkan Balsalobre-Lorente et al., (2023); Rahman et al., (2021); Saba, (2023), dan Tan et al. (2022) menunjukkan bahwa pendapatan nasional memiliki hubungan kuadratik (kuznet) dengan emisi karbon. Data worldbank mengenai emisi CO2 dan GDP di Indonesia tahun 1990-2023 menunjukkan hubungan positif antara Emisi CO2 dan GDP. Akan tetapi, terdapat berapa tahun yang menunjukkan fenomena hubungan berbanding terbalik diantaranya tahun 1998, 2003, 2013 dan 2015.Baca Juga: OJK Bongkar Ribuan Kasus Keuangan Ilegal dan Blokir Ratusan Ribu Rekening Penipuan Digital
Selanjutnya, yang menjadi permasalahan adalah penambahan GDP tanpa memperhatikan penggunaan sumber daya, modal manusia dan teknologi, diduga bisa menyebabkan polusi negara Indonesia akan semakin buruk. Jadi, analisis grafik atau tren data tidak cukup menentukan faktor apa yang bisa menurunkan emisi karbon. Perlu adanya kajian mendalam melalui uji hipotesis berdasarkan literatur dan fenomena yang terjadi, termasuk kajian untuk Indonesia.*Baca Juga: Shin Tae-yong Kembali ke K-League, Resmi Nahkodai Ulsan HD Gantikan Kim Pan Gon
Putri Ayu, adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas