opini

Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Pangan di Provinsi Yogyakarta

Rabu, 6 Agustus 2025 | 04:53 WIB
Putri Ayu

 

oleh : Putri Ayu


Salah satu faktor yang menjadi fokus dalam pembangunan berkelanjutan dunia saat ini adalah ketahanan pangan. Hal ini disebabkan karena akan berdampak pada dalam tujuan pembangunan berkelanjutan atau dikenal dengan SDGs yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan mempromosikan pertanian berkelanjutan.Baca Juga: Jaga Kondusifitas Keamanan Selama PSU Papua, Kabid Humas: Netralitas Polri Harga Mati


Ketahanan Pangan menjadi daya tarik banyak peneliti karena dapat menyebabkan ancaman kelaparan. Penelitian terdahulu mengungkapkan pertumbuhan ekonomi signifikan mempengaruhi ketahanan pangan (Allee et al., 2021; Breisinger & Ecker, 2014; Reardon & Timmer, 2014; Singh & Singh, 2018; Świetlik, 2018; Teng, 2020).Baca Juga: Pemkot Bengkulu Segera Revitalisasi Dua Pasar Trandisional

Akan tetapi ada juga penelitian yang menemukan bahwa ketahanan pangan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (Hanani, 2016; Rusdiana & Maesya, 2017). Bahkan juga ada ditemukan tidak korelasi ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi (Carolan, 2021; Pakdaman & Geravandi, 2018). Dikarenakan banyaknya temuan dari penelitian terdahulu tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketahanan pangan menjadi daya tarik bagi penulis untuk mengidentifikasi pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketahanan pangan.Baca Juga: Pemkot Bengkulu Perkuat Sinergi Layanan Hukum dan HAM


Mengidentifikasi bagaimana pertumbuhan ekonomi akan menjadi faktor pendukung ketahanan pangan, saya mengidentifikasi pada Kabupaten dan Kota yang terdapat di Yogyakarta. Pemilihan provinsi Yogyakarta dikarenakan pertumbuhan ekonomi Provinsi DI Yogyakarta atas Harga Konstan 2010 sejak tahun 2018-2019 mengalami peningkatan yang cukup signifikan berbeda dengan Provinsi lainnya di Pulau Jawa.Baca Juga: Kepala Kanreg VII BKN Temui Gubernur Bengkulu Bahas Penerapan Sistem Merit ASN

Tahun 2018, pertumbuhan ekonomi DI Yogyakarta adalah sebesar 6,02% meningkat menjadi 6,59% pada tahun 2019. Pada tahun 2020 terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di semua daerah, termasuk Yogyakarta sebesar -2,67 %. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi Provinsi DI Yogyakarta pada tahun 2021 meningkat menjadi 5,58% dan paling tertinggi di Pulau Jawa.Baca Juga: Shin Tae-yong Kembali ke K-League, Resmi Nahkodai Ulsan HD Gantikan Kim Pan Gon

Namun, tahun 2023 tercatat pertumbuhan ekonomi Provinsi DI Yogyakarta turun menjadi 5,07%. Mampunya DI Yogyakarta di masa sebelum pandemi dan pasca pandemi menjadi paling tinggi di Pulau Jawa menjadi daya Tarik penulis mengidentifikasi hal ini.

Jika dilihat dari Indeks Ketahanan Pangan Provinsi DIY masing-masing Kabupaten/Kota yang dikeluarkan oleh Badan Pangan Nasional tahun 2025, menunjukkan tren fluktuatif dari 2018-2023. Tren positif kecuali di tahun 2020 hanya ditunjukkan oleh Kulon Progo dan Kabupaten Bantul.Baca Juga: OJK Bongkar Ribuan Kasus Keuangan Ilegal dan Blokir Ratusan Ribu Rekening Penipuan Digital

Pada tahun 2018-2022, Kabupaten Sleman memiliki ketahanan Pangan Paling tinggi, tetapi di tahun 2023 dikejar oleh Kabupaten Kulon Progo. Kabupaten paling rendah dari 2018-2022 adalah Kabupaten Bantul, tetapi terendah pada tahun 2023 ditempati oleh Kabupaten Gunung Kidul.Baca Juga: Ledakan Sumur Minyak Pertamina di Subang, Dua Korban Luka Bakar dan Tim Investigasi Dikerahkan

Selanjutnya jika dilihat dari rata-rata Indeks Ketahanan Pangan dari tahun 2018-2023 dimana paling tinggi adalah Kabupaten Sleman diikuti Kabupaten Kulon Progo Kota Yogyakarta (80.76%), Kabupaten Gunung Kidul (79.96%), dan terakhir Bantul (79,2%).



Gambar 1. Rata-rata Indeks Ketahanan Pangan Provinsi DI. Yogyakarta Tahun 2018-2023. Sumber: Data Sekunder Badan Pangan Nasional, diolah Peneliti (2025)


Sebelum mengidentifikasi pengaruh pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketahanan pangan, penulis menemukan bahwa modal manusia, penanaman modal asing signifikan positif mempengaruhi laju pertumbuhan perkapita di DI Yogyakarta, sedangkan Penanaman modal dalam Negeri tidak mempengaruhi laju pertumbuhan perkapita di DI Yogyakarta.Baca Juga: Wagub Jateng Usulkan Relokasi Investasi Peternakan Babi demi Jaga Kondusivitas Jepara

Analisis konvergensi beta juga ditemukan bahwa tidak terdapat adanya kemampuan kabupaten/kota mengejar ketertinggalan daerah yang maju, sehingga semakin tinggi ketimpangan terjadi di Kota Yogyakarta.


Selanjutnya, dari analisis regresi sederhana menggunakan data tahun 2018-2023 di lima Kabupaten Kota Provinsi DI Yogyakarta ditemukan bahwa pertumbuhan ekonomi signifikan mempengaruhi ketahanan pangan Provinsi DI Yogyakarta.Baca Juga: TP PKK Provinsi Bengkulu Gelar Pasar Murah dan Donor Darah

Halaman:

Tags

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB