Program Repelita dan Gotong Royong di Korea Selatan

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Jumat, 7 Februari 2025 | 08:42 WIB
Mubha Kahar Muang. (Ist)
Mubha Kahar Muang. (Ist)

Tahun 2014 Korea Selatan menjadi penghasil terbesar keempat baja di dunia.

Dalam melaksanakan pembangunan pedesaan, Park ketika itu menggunakan konsep Gotong Royong. Sebanyak 33 ribu lebih desa diberi bantuan semen dan besi dilengkapi dengan berbagai keperluan untuk membangun industri kecil, bukan uang.

Setelah dua tahun desa yang berhasil, diberi bantuan yang lebih besar lagi, dianjurkan swasembada.

Akhirnya rakyat memiliki percaya diri, apa pun mungkin jika bekerja keras. Semangat ini menjalar ke sektor lainnya termasuk industri di kota-kota.

Keunggulan prinsip-prinsip yang dimiliki pemimpin dan rakyat Korea Selatan yang dasar-dasar pembentukannya telah diletakkan oleh Park Chung Hee, menjadikan Korea Selatan maju dan tangguh seperti yang kita lihat saat ini.

Lihat saja misalnya, ketika krisis melanda Asia tahun 1977 cadangan devisa negeri ini tinggal 3 miliar dollar AS, namun empat tahun kemudian cadangan tersebut menjadi 99 miliar dollar AS.

Park Chung Hee Seorang pemimpin yang mengetahui persis karakter bangsanya. Namun Park menafikan HAM dengan berpandangan demokrasi pada waktu yang sempit, adalah kemewahan yang tidak bermanfaat.

Ketika pertumbuhan ekonomi mulai melambat pada awal tahun 1970, ketidakpuasan mulai mengemuka. Antara lain tentang kebebasan berbicara dan pers, penangkapan dan penahanan lawan politik.

Ketidakpuasan ini berujung kepada demonstrasi oleh sebagian mahasiswa dan pekerja. Namun, pemerintahan Park malah memberlakukan darurat militer di Busan sehingga demonstrasi semakin meluas di seluruh negeri.

Park tertembak mati pada 26 Oktober 1979

Park Chung Hee dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Seoul National Cemetery.

Penembaknya, Kim Jae-kyu dihukum gantung pada 24 Mei 1980.

Itulah bagian dari sejarah Korea Selatan yang membangun negeri menggunakan Program Repelita dan Konsep Gotong Royong dalam membangun desa.

Yang pasti, menurut Bank Dunia tahun 2011-2013, pendapatan perkapita Korea Selatan sebesar 33,062 dollar AS, rangking 31 dari 185 negara di dunia. Capaian Korea Selatan sungguh luar biasa. (*)

(Penulis adalah politisi dan pengusaha)

Halaman:

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X