Pemirsa janganlah dulu berharap terlalu banyak pada debat yang suda digelar. Karena kesibukan yang luar biasa, bukan hanya fokus mempersiapkan debat, maka pengalaman, kematangan, kompetensi bawah sadar, dan tacit knowledge selama ini yang akan lebih banyak muncul. Khusus pada momen itu, tentu pembaca dan pemirsa bisa memberikan penilaian sendiri.
Sebaiknya pemirsa debat juga lebih dulu bersikap netral. Kosongkan pikiran dari prasangka dan judgement, serta tidak bersikap apriori.
Tujuan utama debat tiada lain adalah untuk mengatasi masalah. Keinginan untuk mengukur pengetahuan, emosi, sikap, sikap mental, dan lain-lain itu tujuan antara yang sepertinya lebih ditunggu pemirsa daripada tujuan utamanya.
Fugsinya apa? Tidak lain adalah sebagai wadah, tempat, forum untuk memperlihatkan kepiawaian pelaku debat akan tajuk yang dibawakan. Bagi pemirsa, fungsi debat adalah untuk mengetahui bagaimana pelaku debat memahami tajuk, menyikapi, dan memosisikan diri terhadap masalah tajuk, penguasaan data, dan solusi strategis yang perlu diambil.
Dalam debat sejatinya tidak ada kalah-menang. Yang ada adalah pelaku debat yang menguasai masalah dan tidak menguasai masalah. Kondisi ini sangat mungkin bercampur baur. Artinya, untuk topik tertentu satu pihak sangat menguasai, tetapi kurang atau tidak menguasai untuk topik lain. Demikian juga sebaliknya.
Dalam debat sejatinya tidak ada kalah-menang. Yang ada adalah pelaku debat yang menguasai masalah dan tidak menguasai masalah.
Istilah ”menang kalah” adalah kesimpulan subyektif pemirsa atas perdebatan yang mereka tonton. Apakah preferensi pemirsa, yang notabene adalah pemilih, dapat dipengaruhi oleh hasil atau proses debat atau tidak, sepertinya perlu dilakukan penelitian.
Satu pesan penting yang perlu disampaikan adalah jangan sampai mekanisme debat itu sendiri masih jadi bahan perdebatan bahakan jangan sampai debat calon kepala daerah mengubanya seperti lomba cerdas cermat.
Penulis : Direktur Eksekutif Of Political Consultant and Strategic Campaign