Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB
Ilustrasi Sapi Banpres. (gambar dibuat oleh AI)
Ilustrasi Sapi Banpres. (gambar dibuat oleh AI)

Masalah yang muncul saat ini bukan semata pada niat membantu masyarakat menikmati daging kurban. Persoalannya terletak pada munculnya kesan bahwa hewan kurban berasal dari dana pribadi pejabat, padahal sumber pembiayaannya berasal dari uang negara.

Dari sudut pandang tersebut, polemik kurban banpres menjadi lebih dari sekadar persoalan administrasi. Ia menyentuh aspek transparansi, etika publik, serta pemahaman mengenai batas antara ibadah pribadi dan penggunaan anggaran negara.

Kisah Kiai Syahri di sebuah dusun kecil Ponorogo menunjukkan bahwa persoalan yang rumit sering kali dapat diselesaikan dengan kebijaksanaan, musyawarah, dan penghormatan terhadap aturan. Sebab dalam urusan publik, niat baik saja tidak selalu cukup. Cara dan mekanisme pelaksanaannya juga harus memenuhi prinsip-prinsip yang benar agar tidak menimbulkan persoalan baru.*

Boyamin Saiman adalah aktivis antikorupsi kelahiran Ponorogo, advokat, sekaligus pendiri dan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI).

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X