Persamaan utamanya adalah bahan baku keduanya berasal dari gula yang dipanaskan hingga meleleh dan kemudian diberi bentuk tertentu. Namun, perbedaannya, dalgona diberi soda kue untuk memberikan tekstur berongga dan ringan, sementara gulali tradisional tidak selalu menggunakan bahan tambahan tersebut.
Permen gulali yang dikenal kini di Indonesia dikenal di dunia sebagai permen kapas yang berasal dari permen kapas yang muncul pada abad ke-19 oleh Dr. William Morrison dari Amerika.
Morrison bekerja sama dengan pembuat permen, John C. Wharton melalui penemuan mesin yang memanaskan gula dalam mangkuk berputar dengan lobang kecil di dalamnya.
Penamaan permen kapas ini berbeda di setiap dunia, seperti di Inggis disebut sebagai Permen Benang, Tingkok sebagai Jenggot Papa, Belanda sebagai Laba-Laba Gula, Yunani disebut Rambut Wanita Tua, Arab Saudi sebagai Benang Peri, dan Indonesia disebut gulali.
Pendapat lainnya mengungkapkan bahwa kemunculan gulali di Indonesia ditandai juga oleh kedatangan Belanda di Pulau Jawa dengan bersamaan munculnya pabrik-pabrik gula melalui ribuan hektare lahan tebu.
Gula-gula tersebut secara dominan dikonsumsi oleh kalangan Belanda dan sekutunya, sedangkan sisanya dinikmati oleh pribumi Jawa yang melawan (Fornews.com, 2021).
Kembang gula yang dibentuk beragam dibuat oleh masyarakat Jawa dan akhirnya dinikmati pula oleh anak-anak Belanda yang akhirnya disebut sebagai gulali.
Gulali pada masa kini tidak hanya dianggap sebagai sebuah makanan anak-anak, tetapi dapat menjadi sebuah media mengingat kembali masa kecil bagi sebagian orang.
Gulali Indonesia menjadi salah satu kuliner Indonesia yang terbuat dari bahan seadanya pada saat ini mulai terkikis dengan arus modernisasi yang membuatnya kalah saing dengan berbagai jenis permen lainnya.
Fenomena permen dalgona dalam Squid Game membuktikan bahwa makanan bukan hanya sekadar konsumsi fisik, tetapi juga medium representasi budaya yang kuat. Melalui kekuatan media visual, makanan tradisional dapat melampaui batas geografis dan dikenali oleh masyarakat dunia.
Hal ini membuka peluang besar bagi kekayaan kuliner lokal untuk diperkenalkan secara global, sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan budaya mereka sendiri.
Di tengah derasnya arus globalisasi budaya, penting bagi kita untuk tidak hanya menjadi penonton atau pengikut tren semata, tetapi juga mampu merefleksikan nilai-nilai budaya lokal yang kita miliki.
Permen gulali, sebagai bagian dari kenangan kolektif masa kecil masyarakat Indonesia, seharusnya mendapatkan ruang yang sama untuk dikenang, dikembangkan, dan diperkenalkan kembali kepada generasi saat ini.
Dengan demikian, globalisasi bukan menjadi ancaman, melainkan jembatan untuk memperkuat identitas budaya melalui apresiasi dan pertukaran yang sehat.*
Artikel Terkait
Perkuat Kebudayaan Nasional untuk Menjawab Tantangan Globalisasi
Raker TVRI Se-Sumatera 2024, Sinergi Memperkuat Identitas Lokal di Era Globalisasi
UNDIP Gelar Expo Inovasi Pangan Terbesar di Jateng, Libatkan Lima Fakultas untuk Perkuat Ketahanan Pangan
47.184 Penerima Bantuan Pangan di Gowa
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Bengkulu Programkan Cetak Sawah 2.200 Hektare