Menurut Khoiri, kondisi di mana pejabat harus siaga penuh selama 24 jam saat Lebaran menjadi indikator bahwa sistem yang ada belum berjalan efektif. Ia menilai, dibanding moda transportasi lain, sistem penyeberangan masih tertinggal.Baca Juga: Indonesia Desak Rapat Darurat PBB Usai Tewasnya Pasukan Perdamaian di Lebanon
Solusi: Fokus Bangun Dermaga
Sebagai langkah perbaikan, GAPASDAP mendorong pemerintah untuk memprioritaskan pembangunan dermaga sebagai solusi utama. Selain itu, mereka mengusulkan penambahan fasilitas secara bertahap, penetapan lintasan Merak–Bakauheni sebagai tulang punggung nasional, serta kebijakan yang lebih fleksibel.Baca Juga: Bandara Ahmad Yani Diserbu Penumpang, Lonjakan Penerbangan Tembus Dua Digit
Evaluasi terhadap sistem TBB dan integrasi manajemen lalu lintas darat-laut juga dinilai penting untuk segera dilakukan.
GAPASDAP mengingatkan, tanpa pembenahan infrastruktur, kemacetan di pelabuhan akan terus berulang setiap musim libur.Baca Juga: Pasokan Energi di Tarakan Dipastikan Aman, Jargas Kian Jadi Andalan Warga
Khoiri bahkan menyebut kondisi ini sebagai “bom waktu” yang sewaktu-waktu bisa kembali meledak di pintu masuk pelabuhan.
Sebagai pembanding, pembangunan jalan tol seperti Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatera dinilai berhasil mengurai kemacetan secara signifikan. Ia berharap sektor penyeberangan mendapat perhatian serupa.Baca Juga: GEMPAR Bersihkan Pesisir, Pemerintah Ajak Warga Bengkulu Bangun Budaya Peduli Lingkungan
Menutup pernyataannya, GAPASDAP menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam membenahi sistem transportasi penyeberangan.
Tujuannya jelas: menghadirkan layanan yang lebih nyaman bagi masyarakat sekaligus menciptakan ekosistem transportasi yang sehat dan berkelanjutan.*Baca Juga: Ribuan PPPK Terancam Diberhentikan, Pakar UGM Desak Pemda Buka Ruang Dialog