Fenomena ini mengingatkan dunia pada krisis energi global tahun 1970-an. Saat itu, negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries memberlakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat pasca Perang Yom Kippur.
Akibatnya, harga energi melonjak drastis dan pasokan mengalami kelangkaan. Dalam waktu singkat, harga bahan bakar bahkan sempat naik hingga tiga kali lipat.
Kini, situasi serupa kembali menghantui. Ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga minyak, yang berdampak pada sektor transportasi, industri, hingga kebutuhan rumah tangga.
WFH Jadi Solusi Cepat
Dalam kondisi tersebut, WFH menjadi salah satu solusi cepat yang diambil berbagai negara untuk menghemat energi. Selain mengurangi mobilitas harian, kebijakan ini juga membantu menekan konsumsi bahan bakar secara signifikan.
Sejumlah langkah lain juga mulai diterapkan, mulai dari pembatasan perjalanan dinas, pengurangan jam operasional kantor, hingga optimalisasi sistem kerja digital.
Dengan latar belakang tersebut, kebijakan WFH di Indonesia tak hanya relevan untuk mengurai kemacetan arus balik Lebaran, tetapi juga menjadi bagian dari strategi adaptasi menghadapi tekanan krisis energi global.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur digital serta disiplin pelaksanaannya di lapangan.