Jakarta, SUARA PEMBARUAN — Antrean panjang kendaraan logistik, terutama truk, terjadi di jalur penyeberangan antara Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni dalam dua hari terakhir.Baca Juga: Pemuda Papua Bersatu Jaga Kondusivitas Kota Jayapura
Lonjakan ini dipicu meningkatnya aktivitas pengiriman barang menjelang pemberlakuan pembatasan operasional kendaraan bersumbu tiga ke atas. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat juga memperlambat proses pelayanan kapal di pelabuhan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP), Khoiri Soetomo, menilai kejadian ini kembali menegaskan perlunya pembenahan serius terhadap infrastruktur pelabuhan penyeberangan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas fasilitas dermaga.Baca Juga: Tembus Forum Global! Universitas Diponegoro Gaet Puluhan Mitra Internasional di APAIE 2026 Hong Kong
Ia menjelaskan, kapasitas dermaga yang tersedia saat ini belum mampu menampung seluruh kapal yang telah mengantongi izin operasi di lintasan Merak–Bakauheni. Dalam praktiknya, dermaga yang ada diperkirakan hanya mampu melayani sekitar 30 persen dari total kapal yang memiliki izin berlayar.
“Keterbatasan jumlah dermaga membuat banyak kapal harus menunggu giliran operasi setiap hari. Akibatnya, potensi kapasitas angkut yang sebenarnya bisa dimanfaatkan belum berjalan maksimal,” ujar Khoiri.Baca Juga: Agen dan SPBE Turun Langsung ke Jalan Bagi Takjil Ramadhan
Menurutnya, jika jumlah dermaga ditambah dan semua kapal yang sudah berizin dapat dioperasikan secara optimal, risiko penumpukan kendaraan logistik seperti yang terjadi saat ini dapat ditekan.
Selain persoalan kuantitas dermaga, GAPASDAP juga menyoroti kualitas infrastruktur pelabuhan. Salah satu kebutuhan mendesak adalah pembangunan breakwater atau pemecah gelombang untuk melindungi area pelabuhan dari gangguan ombak.Baca Juga: Gua Purba 44.000 Tahun di Area Tambang, SIG–Semen Tonasa Sulap Bulu Sipong Jadi Kawasan Konservasi Dunia
Dengan adanya perlindungan perairan tersebut, kapal yang sedang bersandar untuk proses bongkar muat tidak mudah terganggu oleh cuaca buruk atau gelombang tinggi. Hal ini dinilai dapat menjaga stabilitas pelayanan dan mempercepat proses operasional di pelabuhan.
“Jika perlindungan perairan tersedia dengan baik, kegiatan bongkar muat akan tetap berjalan lebih optimal meskipun kondisi cuaca tidak mendukung,” tambahnya.Baca Juga: Pemprov Bengkulu Matangkan Verifikasi BSPS 2026, Pastikan Bantuan Tepat Sasaran dan Transparan
GAPASDAP berharap kejadian antrean kendaraan yang terjadi belakangan ini dapat menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan untuk mempercepat pembenahan infrastruktur pelabuhan penyeberangan nasional. Lintasan Merak–Bakauheni sendiri merupakan salah satu jalur distribusi logistik paling strategis di Indonesia.
Perbaikan infrastruktur tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi layanan penyeberangan, mengurangi waktu tunggu kendaraan, serta memastikan kelancaran distribusi barang dan aktivitas perekonomian nasional tetap terjaga.*Baca Juga: Minim Penumpang, Garuda Akan Hentikan Penerbangan Rute Bengkulu