Gua Purba 44.000 Tahun di Area Tambang, SIG–Semen Tonasa Sulap Bulu Sipong Jadi Kawasan Konservasi Dunia

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 5 Maret 2026 | 07:51 WIB
Karyawan PT Semen Tonasa melakukan monitoring lukisan seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar hewan pada dinding Leang (Gua) Bulu Sipong 4, Pangkep, Sulawesi Selatan.
Karyawan PT Semen Tonasa melakukan monitoring lukisan seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar hewan pada dinding Leang (Gua) Bulu Sipong 4, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Jakarta, SUARA PEMBARUAN  – Leang (Gua) Bulu Sipong 4 di Bukit Bulu Sipong menjadi saksi bisu peradaban manusia. Di dinding gua ini terhampar seni cadas berusia sekitar 44.000 tahun yang menggambarkan adegan perburuan pada era prasejarah—disebut sebagai salah satu yang tertua di dunia.Baca Juga: Usut Kasus Pengeroyokan dan Pelecehan Seksual, Undip Bentuk Tim Kode Etik dan Tegaskan Beri Sanksi Tegas pada Para Pelakunya

Keberadaan situs purbakala tersebut berada di area tambang tanah liat milik PT Semen Tonasa, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), tepatnya di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Situs Bulu Sipong 4 pertama kali ditemukan pada 2016 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar. Penemuan itu dilanjutkan dengan penelitian pertanggalan sampel lukisan cadas dan kerja sama perlindungan antara perusahaan dan Direktorat Jenderal Kebudayaan.Baca Juga: Pemprov Bengkulu Matangkan Verifikasi BSPS 2026, Pastikan Bantuan Tepat Sasaran dan Transparan

Atas rekomendasi SIG sebagai induk usaha, PT Semen Tonasa kemudian menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare—sekitar 11,3 persen dari total lahan tambang 280 hektare—sebagai zona konservasi. Pada 18 Mei 2018, perusahaan meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong guna menjaga ekosistem sekaligus melindungi situs arkeologi.

Upaya tersebut membuahkan pengakuan internasional. Bulu Sipong 4, sebagai salah satu geosite di Geopark Maros Pangkep, resmi masuk daftar UNESCO Global Geopark berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris pada 2023.Baca Juga: Sekda Bengkulu Ajak Perkuat Sinergi Tingkatkan Keselamatan dan Kepatuhan Pajak Kendaraan

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan penetapan kawasan konservasi ini menjadi wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan yang selaras antara aktivitas industri, pelestarian lingkungan, dan perlindungan nilai budaya.

“Penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai kawasan konservasi menjadi bukti komitmen SIG dan PT Semen Tonasa terhadap pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan industri dengan lingkungan dan nilai budaya. Bulu Sipong diharapkan menjadi sarana edukasi serta membantu mempromosikan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas,” ujar Vita.Baca Juga: Minim Penumpang, Garuda Akan Hentikan Penerbangan Rute Bengkulu

Perusahaan juga menggandeng LPPM Universitas Hasanuddin dalam menyusun Cultural Heritage Management Plan sebagai panduan pengelolaan situs prasejarah Bulu Sipong 4 agar tetap terjaga secara berkelanjutan.

Dalam praktiknya, PT Semen Tonasa bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX untuk melakukan pemantauan getaran dan kualitas udara ambien secara berkala. Infrastruktur pendukung juga dibangun, seperti pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter dan penyiraman rutin untuk menekan debu tambang.Baca Juga: Bertemu Gubernur Gusnar, Pertamina Bahas PBBKB dan Kesiapan Energi Ramadan–Idulfitri 1447 H

Perusahaan turut memasang pagar pembatas sepanjang 1.900 meter, melakukan revegetasi, serta mengedukasi karyawan dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pelestarian situs prasejarah.

Habitat Flora dan Fauna Endemik

Selain menyimpan seni cadas purbakala, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong kini berkembang menjadi habitat alami bagi beragam flora dan fauna. Hingga 2025, tercatat 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon, termasuk eboni (Diospyros celebica), kayu kuku (Pericopsis mooniana), dan bitti (Vitex cofassus) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi.Baca Juga: OJK Tindak Pelanggaran Pasar Modal dan Bursa Karbon, Denda Tembus Rp23,6 Miliar

Kawasan ini juga menjadi rumah bagi 41 jenis satwa liar, terdiri atas 37 jenis burung, dua primata, satu unggas, dan satu reptil. Total populasi satwa terpantau mencapai 869 ekor, termasuk monyet dare (Macaca maura) dan tarsius yang merupakan primata endemik dilindungi.

Vita menambahkan, peningkatan kualitas ekosistem tercermin dari kenaikan Indeks Kehati. Pada 2025, Indeks Kehati Flora mencapai 1,54, meningkat dari 1,38 pada 2020. Indeks Kehati Fauna juga naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51.Baca Juga: Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X