nasional

Cendekia Muda Menggugat: Menghidupkan Kembali Kejayaan yang Dilupakan

Kamis, 30 Oktober 2025 | 10:19 WIB
FGD Seputar Kerajaan dan Kesultnana. SUARA PEMBARUAN (Bangun)

UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

“Maka penghargaan terhadap eks kerajaan Nusantara juga merupakan penghargaan terhadap hak kemerdekaan mereka yang dulu berdaulat sebelum bergabung dengan Republik,” ujarnya.

Dalam pandangan Bangun Lubis, negara ini berdiri di atas wilayah-wilayah bekas kerajaan yang dulunya memiliki kedaulatan penuh. Maka, penghargaan terhadap mereka bukanlah kemurahan hati negara, melainkan kewajiban moral dan historis.

Ia mencontohkan Kesultanan Yogyakarta yang hingga kini masih diakui secara konstitusional sebagai daerah istimewa, dengan hak turun-temurun bagi sultan yang memerintah. “Mengapa kerajaan lain tidak diberi ruang penghormatan yang sama, meski tanpa harus melibatkan kekuasaan politik? Setidaknya, pengakuan budaya dan hak sejarah mereka dijaga,” ujarnya dalam forum itu.

Rekonstruksi Sejarah dan Rehabilitasi Budaya

 Para akademisi dan praktisi yang hadir sepakat bahwa bangsa ini membutuhkan rekonstruksi sejarah yang jujur dan rehabilitasi budaya yang menyeluruh.

Dr. Icuk M. Syakir menegaskan bahwa banyak narasi sejarah Indonesia ditulis secara politis, tidak jarang menyingkirkan peran kerajaan yang tidak sesuai dengan kepentingan rezim masa lalu.

“Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa tahu dari mana bangsa ini berasal,” ujarnya.

 Siera Syailendra dan Nora JuwitaM.Ag, menambahkan, pelestarian situs kerajaan bukan sekadar tugas kebudayaan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi.

Situs-situs seperti Istana Maimun di Medan, Keraton Cirebon, Istana Siak, dan Pagaruyung dapat menjadi pusat wisata sejarah dan budaya kelas dunia bila dikelola dengan visi yang jelas dan berkeadilan.

 Meneguhkan Identitas Nasional

Diskusi FGD ICMI Muda tersebut menegaskan satu pesan utama: modernitas tidak boleh menghapus akar sejarah bangsa.

Pengakuan terhadap eks kerajaan Nusantara justru memperkuat jati diri Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi.

“Puing-puing istana bukan sekadar bangunan tua,” tegas Khofifah di akhir diskusi.

 “Di sana terkubur kehormatan, kearifan, dan kebesaran bangsa. Jika negara terus abai, berarti kita sedang kehilangan sebagian jiwa Indonesia itu sendiri.”

Halaman:

Tags

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB