Kinerja Sektor Jasa Keuangan di Jateng Stabil dan Terjaga

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Selasa, 26 November 2024 | 13:46 WIB
Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Tengah menilai kondisi sektor jasa keuangan di Provinsi Jawa Tengah sampai dengan September 2024 dalam kondisi stabil didukung dengan likuiditas yang memadai.
Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Tengah menilai kondisi sektor jasa keuangan di Provinsi Jawa Tengah sampai dengan September 2024 dalam kondisi stabil didukung dengan likuiditas yang memadai.

 

 

Semarang, SUARA PEMBARUAN - Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Tengah menilai kondisi sektor jasa keuangan di Provinsi Jawa Tengah sampai dengan September 2024 dalam kondisi stabil didukung dengan likuiditas yang memadai dan tingkat risiko yang terjaga.


Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 6,66 persen (yoy) menjadi sebesar Rp468,15 triliun. Adapun kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 5,35 persen (yoy) menjadi sebesar Rp422,25 triliun dengan risiko kredit sebesar 5,68 persen. Baca Juga: Rizky-Mahalini Harus Nikah Ulang? Begini 3 Alasan PA Menolak Permohonan Isbat Nikah Pasangan Artis Ini

DPK Bank Umum di Jawa Tengah tercatat tumbuh sebesar Rp428,49 triliun atau sebesar 7,00 persen (yoy). Total Kredit Bank Umum di Jawa Tengah mencapai Rp384,07 triliun tumbuh sebesar 5,91 persen (yoy).

NPL Bank Umum di Jawa Tengah terjaga sebesar 4,71 persen. Kinerja intermediasi Bank Umum di Jawa Tengah terjaga dengan total Loan to Deposit Ratio (LDR) 89,63 persen. Baca Juga: Tak Sesali Perceraian, Begini Cerita Paula Verhoeven yang Akui Baim Wong Sebagai Sosok Panutan dalam Hidupnya


Selanjutnya, DPK BPR/S di Jawa Tengah tumbuh sebesar 3,18 persen (yoy) sebesar Rp39,66 Triliun. Total Kredit BPR/S di Jawa Tengah mencapai Rp38,19 Triliun naik 0,03 persen (yoy).



DPK tumbuh 11,49 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp36,49 triliun. Adapun pembiayaan yang disalurkan tumbuh sebesar 13,97 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp32,02 triliun dengan rasio NPF sebesar 5,38 persen.Baca Juga: UMP 2025 Akhirnya Dibahas Menaker ke Prabowo, Ini Soal Detail Besaran Upah Minimum Provinsi hingga DKI yang Dipastikan Naik!



Pada sektor IKNB per September 2024, Perusahaan Pembiayaan di Jawa Tengah mencatatkan peningkatan nilai piutang pembiayaan sebesar 8,69 persen yoy mencapai Rp34,29 triliun dengan NPF sebesar 2,86 persen.

Namun demikian, modal ventura di Jawa Tengah mengalami penurunan penyaluran sebesar 9,20 persen yoy dengan total nominal sebesar Rp1,02 triliun. Selanjutnya aset Dana Pensiun di Jawa Tengah tumbuh sebesar 4,57 persen (yoy) mencapai Rp6,87 triliun.Baca Juga: 7 Pemain Ini Kembali Dipanggil STY? Inilah Sederet Punggawa Timnas Indonesia Senior yang Bakal Tampil di Piala AFF 2024

Jumlah penyelenggara fintech peer to peer lending berizin OJK yaitu sampai dengan posisi 22 Oktober 2024 sebanyak 97 penyelenggara yang terdiri dari 90 penyelenggara konvensional dan 7 penyelenggara dengan sistem syariah.

Kinerja fintech peer to peer (P2P) Lending di Jawa Tengah tercatat tumbuh positif meningkat sebesar 41,43 persen yoy dengan outstanding pinjaman mencapai Rp5,95 triliun. TWP 90 P2P lending per September 2024 tercatat sebesar 2,48 persen atau menurun dari tahun sebelumnya sebesar 2,65 persen.Baca Juga: 5 Fakta Kasus Korupsi Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, Soal Dana Rp7 Miliar hingga Uang Jaminan dari Sejumlah Kepala Dinas

Di sisi lain, Perusahaan Penjaminan di Jawa Tengah posisi bulan September 2024 mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 13,88 persen (yoy) dengan total penyaluran penjaminan sebesar Rp4,3 triliun. Pinjaman yang disalurkan di Industri Pergadaian di Jawa Tengah juga tumbuh sebesar 24,61 persen (yoy) mencapai Rp6,26 triliun.

Jawa Tengah tercatat memiliki jumlah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) terbanyak secara nasional yakni sebanyak 112 LKM dengan penyaluran pinjaman yang diberikan mencapai Rp470 milliar atau tumbuh 5,06 persen (yoy) dengan jumlah aset sebesar Rp736 miliar tumbuh 16,01 persen (yoy) sampai dengan bulan Agustus 2024.Baca Juga: Taruna Ikrar Peduli Korban Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki

Transaksi Pasar Modal di Jawa Tengah didominasi oleh investor individu dengan jumlah SID Saham mencapai 709.309 investor pada September 2024 dengan nilai transaksi Rp12,33 triliun. Sementara itu jumlah SID reksadana dan SBN juga meningkat masing-masing 16,00 persen dan 20,75 persen.


Sampai dengan Oktober 2024, OJK Jateng menerima pengaduan yang masuk melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK) sebanyak 999 pengaduan.Baca Juga: Antusiasme Investor terhadap Sustainability Bond bank bjb Luar Biasa, Oversubscribed Hampir 5 Kali Lipat!

Berdasarkan jenis aduan terbanyak adalah sektor Perbankan 570 pengaduan, Pembiayaan 146 pengaduan, Asuransi 95 pengaduan, LJK Lainnya 14 pengaduan, dan Non LJK 16 laporan dan Fintech ilegal 7 pengaduan.

Untuk menurunkan jumlah pengaduan, OJK Provinsi Jawa Tengah senantiasa melaksanakan kegiatan edukasi secara masif kepada masyarakat, yang hingga akhir Oktober 2024 telah dilaksanakan kegiatan sebanyak 158 edukasi kepada masyarakat termasuk pelajar dan pelaku UMKM dengan total peserta 53.106 orang.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X