Gelar Pelatihan Di Ajang JFPPE 2026 Petinggi DTI Yakin Mampu Tingkatkan Daya Saing Teh Indonesia

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Jumat, 27 Maret 2026 | 16:15 WIB
Iriana Ekasari Ketum Dewan Teh Indonesia
Iriana Ekasari Ketum Dewan Teh Indonesia

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Industri teh nasional saat ini masih menghadapi berbagai tantangan serius, meskipun di sisi lain memiliki peluang besar untuk berkembang. Penguatan hilirisasi, inovasi produk, serta pemberdayaan pelaku usaha dinilai menjadi langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan sektor ini secara berkelanjutan.

Ketua Umum Dewan Teh Indonesia, Iriana Ekasari, menekankan pentingnya membangun keterhubungan yang kuat antara sektor produksi, industri, dan konsumsi. Menurutnya, sinergi tersebut diperlukan agar manfaat ekonomi dari industri teh dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Iriana mengungkapkan bahwa saat ini terjadi ketidaksinkronan antara besarnya pasar domestik dengan perkembangan industri teh nasional. Dari sisi konsumsi, Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan seiring pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat setiap tahunnya.

“Pasar kita sangat besar dan terus tumbuh. Namun ironisnya, industri perkebunan teh justru mengalami penurunan, baik dari sisi luas lahan maupun produksi. Ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara potensi pasar dan kapasitas produksi,” ujarnya.

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya dominasi produk impor di pasar dalam negeri. Produk teh dari luar negeri, terutama yang memiliki merek kuat, semakin mudah masuk dan berkembang di Indonesia. Sementara itu, pelaku industri lokal dinilai belum mampu memanfaatkan peluang pasar domestik secara optimal.

Salah satu akar persoalan yang diidentifikasi adalah minimnya pengembangan sektor hilir. Selama ini, sebagian besar produk teh Indonesia masih dijual dalam bentuk bahan mentah atau curah, sehingga nilai tambah yang dihasilkan relatif rendah. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing industri teh nasional.

“Kita tidak anti impor dan tetap melakukan ekspor. Namun yang harus diperkuat adalah peran industri dalam negeri di sektor hilir. Produk teh Indonesia harus memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar,” jelasnya.

Selain hilirisasi, inovasi produk juga menjadi faktor penting dalam menjawab perubahan tren pasar. Iriana menjelaskan bahwa pertumbuhan konsumsi teh saat ini tidak lagi didominasi oleh teh murni seperti teh hitam atau teh hijau, melainkan bergeser ke produk dengan cita rasa unik dan inovatif.

“Generasi muda yang jumlahnya lebih dari 50 persen populasi Indonesia cenderung mencari produk dengan rasa yang berbeda dan menarik. Ini merupakan peluang besar bagi industri untuk berinovasi,” tambahnya.

Untuk mendorong inovasi tersebut, DTI akan menggelar berbagai program pemberdayaan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam sebuah pameran di Yogyakarta, DTI memperkenalkan beragam produk teh lokal dari berbagai daerah, termasuk teh asal Garut yang telah dikembangkan sejak tahun sebelumnya.

Selain produk, DTI juga mengangkat potensi kebun teh bersejarah yang telah berdiri sejak 1963 sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat. Potensi ini dinilai belum banyak dikenal, padahal memiliki nilai ekonomi sekaligus potensi sebagai destinasi wisata.

DTI juga menyelenggarakan kegiatan edukatif seperti kelas flavoring teh yang ditujukan bagi UMKM, pelaku kafe, serta industri makanan dan minuman. Dalam pelatihan ini, peserta dibekali pengetahuan tentang teknik pencampuran perisa yang tepat dan aman sesuai standar pangan.

Kegiatan tersebut melibatkan mitra internasional yang memiliki kompetensi di bidang perisa dan keamanan pangan, guna memastikan inovasi yang dilakukan tetap memenuhi regulasi dan tidak membahayakan konsumen.

Setiap sesi pelatihan diikuti sekitar 25 peserta dengan dua sesi per hari selama pameran berlangsung. Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih sangat kecil dibandingkan potensi UMKM di Yogyakarta yang mencapai ribuan unit usaha.

Halaman:

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X