Oleh Bangun Lubis (Wartawan SuaraPembaruan.News)
DI antara riuhnya kota dan senyapnya desa, Indonesia sedang bergerak. Budaya lokal bertahan dalam ruang sempit, ekonomi digital melaju dengan gegap gempita, sementara pendidikan masih berjuang menyusul irama zaman.
Kita hidup dalam masa yang dinamis—penuh peluang sekaligus ancaman. Namun pertanyaannya: apakah kita cukup siap menghadapi masa depan tanpa melupakan akar budaya dan nilai luhur kita sendiri?
Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah
Budaya: Dikepung Globalisasi, Bertahan Lewat Adaptasi
Indonesia adalah tanah yang kaya tradisi. Namun kini, warisan itu diuji oleh arus globalisasi yang tak mengenal batas. Di layar ponsel generasi muda, dominasi budaya Korea, Barat, dan virtual reality mengalahkan cerita rakyat dan tarian daerah.
Banyak remaja tak lagi mengenal lagu daerah, tak paham filosofi batik, dan bahkan tak tahu cara menulis aksara lokal. Namun di sisi lain, tak sedikit pula seniman muda yang menghidupkan kembali budaya leluhur lewat media sosial—mengunggah syair dalam bahasa ibu, mendigitalisasi aksara kuno, hingga mengajarkan tarian adat lewat TikTok.
Budaya Indonesia tidak punah—ia hanya menunggu untuk diakses dengan cara baru. Jika ingin tetap hidup, maka budaya harus masuk ke ruang yang dihuni generasi baru: dunia digital.
Ekonomi: Tumbuh, Tapi Masih Pincang
Secara makro, ekonomi Indonesia cukup menjanjikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 mencapai 5,1%. Digitalisasi UMKM, geliat start-up, dan geliat e-commerce menjadi motor utama.
Namun pertumbuhan itu belum sepenuhnya inklusif. Ketimpangan antara kota dan desa, Jawa dan luar Jawa, digital dan manual—masih kentara. Banyak petani, buruh informal, dan pelaku usaha kecil belum menikmati pertumbuhan itu secara nyata.
Ke depan, pembangunan ekonomi perlu memastikan bahwa tidak hanya angka yang tumbuh, tapi juga manusia yang bertumbuh—dengan martabat, kesempatan, dan daya saing.
Baca Juga: Adab Bekerja Bagi Seorang Islam
Pendidikan: Cahaya yang Masih Redup di Ujung Negeri
Kurikulum Merdeka membawa semangat perubahan. Guru lebih bebas berinovasi, siswa lebih aktif mengeksplorasi. Namun realitas di lapangan masih timpang. Masih ada sekolah tanpa listrik, guru yang harus mengajar empat kelas sekaligus, bahkan anak-anak yang belajar tanpa buku.
Menurut data UNICEF 2024, 1 dari 4 anak Indonesia usia sekolah dasar di daerah 3T belum memiliki akses pendidikan yang layak. Pendidikan masih menjadi kemewahan bagi sebagian anak negeri ini.
Pendidikan adalah tangga sosial, tapi tangga itu tak boleh hanya tersedia di kota. Negara harus hadir—bukan hanya dengan bangunan sekolah, tapi juga dengan keberpihakan pada yang tak bersuara.
Baca Juga: Tersiksa Lahir Batin di Belantara Papua, Pentolan OPM Pasrahkan Diri ke Satgas Yonif 501/BY
Artikel Terkait
Bazma Pertamina Patra Niaga JBT Berbagi di Momen Tahun Baru Islam, Santuni Puluhan Anak Yatim di Semarang
Dari Forum WCIT 2024 : Jusuf Kalla Ajak Mengakhiri Konflik di Negara-negara Islam
Teror Ledakan Pager di Lebanon Menandakan Umat Islam Tertinggal Teknologi
Indonesia dan Mesir Miliki Kesamaan Memandang Islam Moderat dan Junjung Tinggi Toleransi
Prabowo Minta kepada Mahasiswa RI di Al Azhar Kairo untuk Belajar Islam yang Sejuk
Pemprov Bengkulu dan PMII Bahas Penguatan Peran Mahasiswa Islam
Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah
Prabowo: Dunia Islam Harus Bangkit Bersatu, Bukan Sekadar Jadi Penonton Global
JK : Ekonomi Islam Tidak Boleh Monopoli dan Spekulatif
Dewan Masjid dan Tiga Kementerian Kerja Sama Wujudkan Kehidupan Ekonomi dan Sosial Umat Islam.