Oleh: Ir. Salamah Syahabudin, MP, C.GR
Kepala Kepegawaian dan Litbang SIT Al Furqon Palembang
DALAM pandangan Islam, seorang Muslim haruslah bekerja. Islam tidak menyuruh pemeluknya untuk bermalas-malasan. Seorang Islam berkerja adalah sebuah kewajiban. Karena dengan bekerja, seseorang akan memperoleh penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan juga keluarganya serta dapat memberikan maslahat bagi masyarakat di sekitarnya.
Betapa banyak ayat maupun hadits yang menganjurkan dan menyuruh hambanya untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh, baik mencari nafkah untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat ataupun makhluq lainnya.
Rasulullah SAW. bersabda : “Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan daari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabiyullah Daud juga makan dari hasil kerja tangannya sendiri” (HR. Bukhari).
Baca Juga: Indonesia Mayoritas Islam tapi Pengusaha Muslimnya Terendah
Seorang muslim dalam bekerja tentu demikian penting, sehingga membutuhkan etika atau adab. “Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".
Selain sebagai satu kewajiban, Islam juga memberikan penghargaan yang sangat mulia bagi para pemeluknya yang dengan ikhlas bekerja mengharapkan keridhaan Allah SWT. Penghargaan tersebut adalah sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits berikut :
- Akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT
مَنْ أَمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ رواه الطبراني
Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VII/ 289)
Fi sabililah
Dari Ka'ab bin Umrah berkata, "Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. Orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkata, 'Ya Rasulullah, andaikata bekerja seperti dia dapat digolongkan fi sabilillah, alangkah baiknya.' Lalu Rasulullah bersabda, 'Jika ia bekerja untuk mengidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; Jika ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; dan jika ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fi sabilillah... (HR. Thabrani)
Artikel Terkait
Majukan Syiar Islam, Herman Deru Resmikan Masjid Al Hijrah di Bukit Baru
PP IKADI Anugarahi Herman Deru Penghargaan Tokoh Nasional Peduli Dakwah Islam Rahmatan Lil'Alamin
Paksakan Diri dan Tekun Menjalankan Perkara Ibadah Syariat Islam
Syafruddin :Islam Harus Siap Hadapi Tatanan Dunia Baru
1 Abad NU - Pemikiran Pendidikan Islam Hasyim Asy’ari dan Tradisionalisme
Mahasiswa UIII Harus Wujudkan Islam yang Damai
Ribuan Umat Islam Shalat Gaib untuk Palestina di Istiqlal
Indonesia Mayoritas Islam tapi Pengusaha Muslimnya Terendah
Pemprov Bengkulu Jalin Kerja Sama dengan Universitas Islam Riau
JK : Jadikan Negara Asia Tenggara Pusat Pendidikan Tinggi Islam