SIG Kembangkan Budidaya Serai Wangi di Lahan Pascatambang Narogong untuk Dorong Ekonomi Berkelanjutan

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 28 April 2025 | 09:31 WIB
Karyawan SBI memberikan penjelasan tentang Serai Wangi kepada mahasiswa di kawasan lahan reklamasi batu gamping Pabrik Narogong, Jawa Barat.
Karyawan SBI memberikan penjelasan tentang Serai Wangi kepada mahasiswa di kawasan lahan reklamasi batu gamping Pabrik Narogong, Jawa Barat.


Jakarta, SUARA PEMBARUAN  – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) bersama entitas bisnisnya terus mempertegas komitmen terhadap praktik keberlanjutan melalui reklamasi dan revegetasi lahan pascatambang. Di Pabrik Narogong, Jawa Barat, SIG melalui anak usaha PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, hingga tahun 2024, telah berhasil mereklamasi 109,02 hektare area bekas tambang batu gamping dan tanah liat, serta menanam lebih dari 120 ribu batang pohon berbagai jenis.Baca Juga: Bunda Iffet, Ibu Slankers dan Pejuang Anti-Narkoba, Tutup Usia di 87 Tahun

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengungkapkan bahwa reklamasi dan revegetasi ini merupakan wujud tanggung jawab SIG dalam menjaga kelestarian alam dan melindungi keanekaragaman hayati. Jenis tanaman yang dikembangkan meliputi jati, trembesi, kayu putih, sengon, mahoni, merbau, hingga jabon.Baca Juga: Presiden Berganti, Diplomasi Tetap Berlanjut: Strategi di Balik Pengutusan Jokowi ke Pemakaman Paus

Sebagai bagian dari upaya reklamasi sosial dan berkelanjutan, SIG juga mengembangkan budidaya serai wangi di area seluas ±10 hektare di Narogong. "Serai wangi dipilih karena adaptif terhadap berbagai kondisi tanah, memiliki nilai ekonomis, dan berkontribusi dalam upaya konservasi lingkungan," ujar Vita Mahreyni.


Program ini dirancang berbasis pemberdayaan masyarakat, berkolaborasi dengan kelompok lokal dalam pengelolaan hasil pertanian.Baca Juga: Kamaluddin Terpilih Aklamasi Pimpin DPP AABI 2025-2030

Penanaman serai wangi di Narogong dimulai sejak 2020 berdasarkan rekomendasi dari Irdika Mansur, peneliti Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB serta Direktur SEAMEO Biotrop. Berdasarkan riset soil mapping pada 2018, serai wangi dinilai ideal untuk mengatasi tantangan reklamasi, termasuk pencegahan erosi.Baca Juga: Revitalisasi dan Pembangunan Rumah Mata Kota Bengkulu Telan Dana Rp 110 Miliar

Tak hanya berhenti di budidaya, SIG melalui kelompok Perempuan Sadar Berkarya (PUSAKA) mengolah serai wangi menjadi berbagai produk minyak atsiri bermerek SIJEBI, seperti minyak esensial, hand sanitizer, sabun cuci tangan, hingga minyak telon. Proses produksi dilakukan menggunakan mesin penyulingan tipe distilasi uap berkapasitas 1,2 ton, dengan hasil panen mencapai 3–5 kilogram per hektare.Baca Juga: Ratusan Pengusaha Konstruksi se-Indonesia Ikut Munas VII AABI di Makassar

Selain memberikan dampak lingkungan, program ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Sebanyak 34 petani dan masyarakat dari Ring 1 Perusahaan terlibat dalam berbagai tahap, mulai dari penanaman hingga produksi. Produk SIJEBI kini telah dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia melalui marketplace, dan aktif berpartisipasi dalam pameran nasional hingga internasional.Baca Juga: Menyentuh Hati Lewat Ruqyah: Kisah Aipda Fahrurrozi, Polisi yang Menjadi Obat Bagi Masyarakat

Capaian ekonomi kelompok PUSAKA terus meningkat. Pada 2024, pendapatan dari penjualan produk SIJEBI mencapai Rp227 juta, naik 17% dibandingkan tahun sebelumnya dan melonjak 490% dari baseline 2021.


"Program ini adalah inovasi dalam pengelolaan lahan pascatambang, membangun rantai nilai yang memberikan dampak sosial-ekonomi berkelanjutan. SIG berkomitmen untuk terus menciptakan program-program CSR yang inovatif dan berdampak langsung kepada masyarakat," tambah Vita Mahreyni.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X