kesehatan

Sido Muncul Dorong Saintifikasi Jamu

Selasa, 2 September 2025 | 12:25 WIB
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat saat menerima cinderamata dari Rektor Unnes Prof. Dr. S. Martono, M.Si dan Dekan FK Unnes Prof. Dr. dr. Mahalul Azam, M.Kes (SP/Stefy Thenu)

Semarang, SUARA PEMBARUAN - Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah, dengan lebih dari 30 ribu jenis tanaman, dan sekitar 9.600 di antaranya terbukti berkhasiat sebagai obat tradisional. Sejak ratusan tahun lalu, penggunaan tanaman herbal telah menjadi bagian dari budaya masyarakat, namun agar lebih diterima dalam sistem kesehatan modern, pemanfaatannya tetap membutuhkan dukungan penelitian dan pendekatan ilmiah.Baca Juga: Carter KM Nggapulu, 2.000 Alumni SMANSA Makassar Berlayar ke Semarang

Sebagai wujud kontribusi, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk bersama Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar Seminar Nasional ke-53 bertajuk “Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat”, pada Selasa, 2 September 2025. Acara yang digelar di kampus FK Unnes ini diikuti 250 peserta dari kalangan dokter, apoteker, dan tenaga kesehatan, baik secara luring maupun daring.Baca Juga: Strategi Personal Branding di Medsos: Autentik, Konsisten, dan Tanpa Kesan Pamer untuk Dongkrak Bisnis

Seminar dibagi dalam dua sesi dengan menghadirkan enam narasumber. Sesi pertama menampilkan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI, Mohamad Kashuri, yang menjelaskan regulasi pengawasan obat tradisional. Materi berikutnya disampaikan Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kemenkes RI, Dita Novianti Sugandi, mengenai kebijakan pemanfaatan obat tradisional di layanan kesehatan, serta Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, yang menekankan pentingnya standar Good Manufacturing Practices (GMP) dalam industri herbal.Baca Juga: Ketua Banggar DPR: Anggota yang Dinonaktifkan Partai Tetap Sah Jadi Legislator hingga Ada PAW

Pada sesi kedua, Dosen FK Undip, Dr. dr. Neni Susilaningsih, memaparkan hasil uji manfaat Tolak Angin. Selanjutnya, Dr. apt. Ipang Djunarko dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma mengulas uji toksisitas subkronis Tolak Angin, dan Dekan FK Unnes, Prof. Dr. dr. Mahalul Azam, menekankan peran perguruan tinggi dalam memperkuat riset fitofarmaka.Baca Juga: Rusak Lingkungan, Masyarakat Adat Tolak Budidaya Tanaman Kelapa Sawit di Enggano

Dalam sambutannya, Rektor Unnes, Prof. Dr. S. Martono, M.Si., menyampaikan bahwa obat herbal tidak seharusnya dipandang sebagai pesaing obat kimia, melainkan sebagai pelengkap. “Hasil penelitian obat herbal perlu dimanfaatkan secara tepat oleh masyarakat. Herbal bisa menjadi pendamping obat kimia,” ujarnya.Baca Juga: Rumah Sakit Tino Galo Kota Bengkulu Mulai Layani Pasien BPJS Kesehatan

Deputi BPOM RI, Mohamad Kashuri, S.Si., Apt., M.Farm., dalam paparannya mengenai “Kebijakan Pengawasan Obat Tradisional dalam Mendukung Program Indonesia Sehat” menegaskan bahwa Badan POM memiliki tanggung jawab memastikan obat, makanan, termasuk obat berbahan alam, memenuhi syarat keamanan dan mutu. Namun, ia mengakui bahwa tugas tersebut tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan perguruan tinggi, industri, dan masyarakat.Baca Juga: Pemprov Bengkulu Terbitkan Surat Edaran Perlindungan Pekerja Rentan

Irwan Hidayat berfoto bersama sebelum seminar di FK Unnes, Selasa (2/9).

Menurutnya, kampus merupakan tempat awal pengembangan produk herbal melalui riset. Hasil penelitian itu nantinya harus sejalan dengan regulasi agar dapat diterima industri. “Tugas industri adalah memastikan produk yang dihasilkan aman, bermutu, dan sesuai persyaratan. Sementara BPOM melakukan pendampingan sekaligus pengawasan di pasar. Jika terjadi pelanggaran, tentu ada tindakan administratif maupun hukum,” jelasnya.Baca Juga: Bakti KB di Provinsi Bengkulu Targetkan Sasar 9.443 Akseptor

Kashuri juga menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai benteng terakhir dalam memilih obat herbal. Oleh karena itu, edukasi publik menjadi salah satu langkah utama. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergoda oleh promosi berlebihan, melainkan memilih produk yang sudah terstandar dan teruji.Baca Juga: Bakti KB di Provinsi Bengkulu Targetkan Sasar 9.443 Akseptor

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa, namun pemanfaatannya masih terbatas karena minimnya bukti ilmiah. Hal ini menjadi salah satu penyebab tenaga medis cenderung ragu dalam merekomendasikan obat tradisional. Untuk itu, ia mendorong kolaborasi industri dan perguruan tinggi dalam menghasilkan data riset yang kuat agar herbal semakin diterima di dunia kesehatan modern.Baca Juga: UMK Academy 2025, Dorong UMK Naik Kelas Hingga Go Global!

Kashuri mengutip data bahwa lebih dari 40% penduduk Indonesia menggunakan obat bahan alam untuk kesehatan, menunjukkan budaya minum jamu sudah mengakar sejak lama. Tren ini, menurutnya, justru bisa diperkuat di era generasi Z dan Alfa, yang lebih terbuka terhadap inovasi produk herbal. Baca Juga: Makanan Ringan RI Tembus Pasar Afrika, Ekspor Perdana Mendarat di Pantai Gading

“Sekarang jamu bisa diolah menjadi berbagai bentuk yang lebih praktis dan enak dikonsumsi. Inilah peluang besar untuk menghidupkan kembali jamu sebagai warisan budaya sekaligus bagian dari gaya hidup sehat,” pungkasnya.Baca Juga: Tokoh Agama dan Masyarakat Jateng Serukan Persatuan dan Kedamaian

Direktur PT Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, menegaskan bahwa seminar ini bertujuan mendorong pemanfaatan herbal dalam sistem kesehatan formal. Ia menyebut Indonesia memiliki banyak tanaman berkhasiat, seperti kunyit, temulawak, jahe, daun dewa, dan kulit manggis. Sebagian besar telah diteliti dan bahkan dikembangkan menjadi lebih dari 60 produk herbal tunggal.Baca Juga: Reformasi Setengah Hati

“Herbal punya keunggulan dan keterbatasan, sama halnya dengan obat kimia. Karena itu, kerja sama dengan kalangan medis sangat penting agar pemanfaatannya tepat sasaran,” jelas Irwan.

Halaman:

Tags

Terkini

GMTD Perkuat Peran Kader Posyandu di Makassar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:47 WIB