Antre Demi BPJS Aktif, Lansia Jogja Bawa Telur Ceplok agar Tetap Kuat Tunggu Berjam-jam

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 13 Februari 2026 | 06:21 WIB
Menyoroti penuturan pasangan suami dan istri di Yogyakarta yang sengaja bawa bekal demi kuat antre berjam-jam urus reaktivasi BPJS PBI-JK. (Instagram.com/@pandanganjogja)
Menyoroti penuturan pasangan suami dan istri di Yogyakarta yang sengaja bawa bekal demi kuat antre berjam-jam urus reaktivasi BPJS PBI-JK. (Instagram.com/@pandanganjogja)

 

Jogjakarta, SUARA PEMBARUAN - Percakapan soal reaktivasi kartu BPJS PBI-JK tengah ramai di media sosial. Banyak warga berbagi pengalaman tentang upaya mengaktifkan kembali status kepesertaan agar bisa kembali mendapatkan layanan kesehatan gratis dari pemerintah.

Di tengah sorotan tersebut, kisah haru datang dari Yogyakarta. Sepasang lansia di kawasan Mantrijeron rela mengantre berjam-jam di Mal Pelayanan Publik (MPP) Balai Kota Yogyakarta demi mengurus reaktivasi BPJS mereka yang sempat dinonaktifkan.

Cerita itu viral setelah diunggah akun Instagram @pandanganjogja pada Kamis, 12 Februari 2026. Dalam unggahan tersebut, pasangan suami-istri itu tampak duduk sabar menunggu giliran bersama ratusan warga lainnya.

Mereka datang sejak pagi. Namun ketika tiba sekitar pukul 10.00 WIB, nomor antrean yang didapat sudah menyentuh angka 317—tanda waktu tunggu yang tak sebentar.

Agus Suwanto, sang suami, mengaku tak punya pilihan selain menunggu. Ia memiliki riwayat penyakit paru-paru dan membutuhkan kontrol kesehatan rutin.

“Iya, tidak apa-apa,” ujarnya singkat, mencoba tegar.

Menyadari prosesnya akan lama, keduanya datang dengan persiapan sederhana. Agus membawakan bekal telur ceplok dari rumah agar tak perlu membeli makanan selama mengantre.

“Daripada jajan terus. Dari tadi mengantre, sudah saya bikinin telur ceplok,” katanya sambil tersenyum. “Itu saja yang simpel.”

Bagi mereka, setiap pengeluaran harus dihitung cermat.

Endah, sang istri, juga punya alasan kuat untuk segera mengaktifkan kembali BPJS PBI. Ia menderita diabetes dan harus menjalani suntik insulin setiap hari—pengobatan yang biayanya tidak murah jika ditanggung sendiri.

“Suntik insulin ini kan mahal. Saya diberi tahu tetangga dan RT caranya urus reaktivasi,” tutur Endah. “Jadi datang ke sini, karena kebetulan sudah ada yang mengurus.”

Kisah pasangan lansia ini menjadi potret perjuangan warga kecil demi mendapatkan hak layanan kesehatan. Di balik antrean panjang dan bekal sederhana, ada harapan besar agar tetap bisa berobat tanpa terbebani biaya.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

GMTD Perkuat Peran Kader Posyandu di Makassar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:47 WIB
X