Prabowo di APEC 2025: Diplomasi Kepercayaan di Tengah Dunia yang Terbelah

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 3 November 2025 | 06:23 WIB
Prabowo ajak negara APEC bangun kembali kepercayaan dan inklusivitas di tengah dunia yang terpecah.
Prabowo ajak negara APEC bangun kembali kepercayaan dan inklusivitas di tengah dunia yang terpecah.

“Sudah saatnya kita memperbarui komitmen terhadap kerja sama ekonomi multilateral yang terbuka, adil, dan inklusif,” tegasnya.

Prabowo menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa inklusivitas hanya akan memperdalam kesenjangan.

Dalam konteks itu, ia mendorong APEC untuk memastikan manfaat perdagangan dan investasi dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya oleh segelintir elite ekonomi.

“Pertumbuhan yang tidak inklusif adalah pertumbuhan yang memecah belah,” katanya dengan nada reflektif.

“APEC harus memastikan manfaat perdagangan dan investasi menjangkau semua orang, agar tidak ada satu pun ekonomi yang tertinggal.”

Pidato Prabowo bukan sekadar retorika. Ia menautkan pesan global dengan pengalaman domestik Indonesia.

Di hadapan para pemimpin dunia, Prabowo menampilkan wajah ekonomi rakyat yang menjadi prioritas pemerintahannya, yakni pemberdayaan UMKM, koperasi, dan ekonomi desa sebagai strategi untuk memperkuat daya saing dan kemandirian nasional.

“Di Indonesia, kami memberdayakan UMKM, membangun ribuan koperasi, dan memberi kesempatan bagi masyarakat untuk memiliki peran lebih besar dalam perekonomian,” ujarnya.

Langkah ini bukan hanya menunjukkan arah kebijakan ekonomi nasional, tetapi juga mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang menjembatani antara idealisme pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial.

Tantangan Ke Depan

Pernyataan Prabowo di Gyeongju menggambarkan visi yang lebih besar: membangun arsitektur ekonomi kawasan yang tidak hanya tangguh terhadap krisis, tetapi juga adil dan berkeadaban. Namun, tantangan utama APEC ke depan justru terletak pada penerjemahan semangat kolaborasi menjadi tindakan nyata di tengah rivalitas global yang semakin keras.

Dalam konteks itu, ajakan Prabowo untuk “bangkit di atas kecurigaan” menjadi relevan. Di tengah dunia yang terbelah oleh konflik dan kepentingan, diplomasi berbasis kepercayaan adalah modal politik yang langka namun sangat dibutuhkan.

Indonesia, melalui kepemimpinan Prabowo, tampak berusaha memosisikan diri sebagai jembatan — bukan hanya antara utara dan selatan, tetapi antara kepentingan ekonomi dan kemanusiaan.

Diplomasi Empati

Kehadiran Prabowo di KTT APEC 2025 tak sekadar menandai debut internasionalnya sebagai kepala negara, tetapi juga menunjukkan corak baru diplomasi Indonesia: lebih empatik, lebih realistis, dan berorientasi pada kolaborasi.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X