Fintech Dongkrak Pertumbuhan Jasa Keuangan Jateng, OJK Catat Penyaluran Tembus Rp7 Triliun

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Minggu, 5 Oktober 2025 | 21:18 WIB
OJK mengimbau bank turunkan bunga kredit menyusul penurunan suku bunga acuan. (menpan.go.id)
OJK mengimbau bank turunkan bunga kredit menyusul penurunan suku bunga acuan. (menpan.go.id)

 


Semarang, SUARA PEMBARUAN - Pertumbuhan pesat sektor financial technology (fintech) menjadi sorotan utama dalam laporan kinerja sektor jasa keuangan di Jawa Tengah per Juli 2025.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah mencatat, penyaluran pinjaman Fintech Peer to Peer (P2P) Lending melonjak signifikan hingga 29,44 persen (yoy) dengan nilai mencapai Rp7,03 triliun.


Kinerja ini didorong oleh meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan pendanaan digital yang semakin mudah dan cepat. Tingkat wanprestasi (TWP 90) juga tercatat relatif terjaga di angka 2,65 persen, menunjukkan kualitas kredit fintech masih sehat dan terkontrol.

Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah menyebut, peningkatan peran fintech menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan sektor keuangan non-bank (IKNB) di daerah, sekaligus memperluas inklusi keuangan masyarakat.

Stabilitas Keuangan Terjaga

Secara umum, OJK menilai kondisi sektor jasa keuangan di Jawa Tengah masih stabil dengan likuiditas memadai dan risiko yang terjaga.


Pada sektor perbankan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 1,78 persen (yoy) menjadi Rp469,23 triliun, sementara kredit meningkat 1,44 persen (yoy) mencapai Rp420,96 triliun. Meski demikian, total aset perbankan sedikit terkontraksi -0,09 persen (yoy) menjadi Rp579,51 triliun.

Khusus Bank Umum, DPK tumbuh 1,85 persen (yoy) menjadi Rp429,68 triliun, dengan kredit yang naik 1,70 persen (yoy) ke angka Rp383,13 triliun. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di 89,17 persen, menandakan fungsi intermediasi masih optimal.


OJK juga menegaskan terus memperketat pengawasan untuk memastikan tingkat Non-Performing Loan (NPL) terkendali, termasuk mendorong perbankan memperkuat Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sesuai regulasi.

BPR dan Perbankan Syariah Tumbuh Positif

Sektor Bank Perkreditan Rakyat (BPR/S) menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan aset 0,69 persen (yoy). DPK BPR/S naik 1,04 persen (yoy) menjadi Rp39,55 triliun, sedangkan total kredit mencapai Rp37,83 triliun.

Sementara itu, perbankan syariah justru mencatat pertumbuhan paling pesat dibanding subsektor lain. Aset meningkat 10,90 persen (yoy), DPK naik 10,45 persen (yoy) hingga Rp38,63 triliun, dan pembiayaan tumbuh 10,82 persen (yoy) menjadi Rp34,49 triliun.


Meski demikian, rasio Non-Performing Financing (NPF) masih tercatat di angka 5,04 persen, yang menyumbang sekitar 6,87 persen dari total NPL perbankan di Jawa Tengah.

Industri Non-Bank dan Pasar Modal Semakin Aktif

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X