Kasus Dwi Hartono, seorang pengusaha sukses yang dikenal dermawan sekaligus berprofesi sebagai motivator, mengejutkan publik. Bagaimana mungkin sosok yang kerap tampil menginspirasi, yang reputasinya dibangun di atas kesuksesan bisnis dan kemurahan hati, justru terungkap sebagai dalang penculikan dan pembunuhan Muhammad Ilham Pradipta, Kepala Cabang Pembantu sebuah bank BUMN di Jakarta?Baca Juga: Mari Kita Bersama-sama Membangun Papua Pegunungan
Ironi ini membuka mata kita pada sebuah fenomena dalam psikologi kepribadian: psikopat sukses atau sering disebut juga psikopat fungsional.
Dalam literatur psikologi, istilah seperti functional psychopath, socialized psychopath, hingga corporate psychopath menggambarkan orang-orang yang punya kecenderungan psikopati—dingin, manipulatif, minim empati—namun tetap berfungsi dengan baik, bahkan menonjol, di tengah masyarakat. Mereka sering tampil menawan, cerdas, percaya diri, dan seolah peduli pada orang lain.Baca Juga: LPS Turunkan Bunga Penjaminan Jadi 3,75 Persen, Berlaku Mulai 28 Agustus 2025
Dwi Hartono adalah gambaran nyata dari paradoks ini. Di satu sisi, ia dikenal dermawan, memberi motivasi, dan menjadi panutan. Namun di sisi lain, ia mampu merencanakan tindakan keji dengan kalkulasi dingin tanpa empati.
Psikolog kerap menggunakan istilah Dark Triad Personality untuk memahami kepribadian seperti ini. Tiga unsur gelap yang menyusunnya adalah Narsisme: dorongan ingin dipuja, tampil sempurna, dan dianggap istimewa. Machiavellianisme: kemampuan memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi. Psikopati: sikap dingin, tak berperasaan, bahkan tega menyakiti tanpa rasa bersalah.Baca Juga: Satgas Pangan Polri Beberkan Alasan Produsen Ragu Suplai Beras Premium ke Ritel
Ketiganya bisa berpadu dalam diri seseorang yang tampak karismatik, sehingga masyarakat terkecoh. Mereka tampak sebagai “pahlawan” dalam balutan jas mewah, padahal sejatinya “ular berbaju jas”—istilah yang populer digunakan Paul Babiak dan Robert Hare.Baca Juga: Prabowo Pastikan Kursi Wamenaker Pengganti Immanuel Ebenezer Segera Terisi
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan betapa berbahayanya figur publik yang punya sisi psikopatik. Mereka bisa menempati posisi terhormat: pengusaha, politisi, pemuka agama, bahkan motivator. Dengan citra kebaikan, mereka mendapat legitimasi sosial yang memudahkan aksi manipulatif.Baca Juga: UNP dan Kecamatan Harau Gelar Edukasi Keuangan untuk Cegah Pinjaman Online Ilegal
Masyarakat awam sering terjebak dalam pesona: “Dia dermawan, dia memberi inspirasi, dia pasti orang baik.” Padahal, karisma tidak selalu berarti kebaikan, dan keberhasilan finansial tidak otomatis mencerminkan moralitas.
Dari kasus Dwi Hartono, ada setidaknya tiga pelajaran penting. Pertama, Jangan terjebak pada citra. Kesuksesan, kekayaan, atau kedermawanan tidak otomatis menjamin integritas moral seseorang.Baca Juga: Cegah Aksi Begal, Wali Kota Bengkulu Ajak Warga Aktifkan Pos Kamling
Kedua, Pahami tanda-tanda psikopati fungsional. Karisma yang berlebihan, kontrol manipulatif, serta ketiadaan empati bisa jadi tanda bahaya.
Ketiga, Perlu literasi psikologis dalam masyarakat. Agar kita tidak mudah terpesona oleh sosok publik yang tampak inspiratif, tapi menyimpan agenda gelap.Baca Juga: Gelorakan Semangat Pemuda, Kejuaraan Futsal Kapolda Bengkulu Cup VII SANS 2025 Resmi Dibuka
Kasus ini menyakitkan karena melibatkan dua sisi ekstrem: kebaikan yang dipertontonkan dan kebiadaban yang tersembunyi.*
BUNG STH BICARA adalah kolom opini tentang isu hangat dan aktual yang ditulis oleh Stefy Thenu, jurnalis senior Suara Pembaruan, aktivis sejumlah organisasi, anggota PWI Jateng dan bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers.