Konflik ini juga menjadi pelajaran bagi semua pihak. Bagi Korea, ia menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya harus disertai kerendahan hati dan sensitivitas lintas budaya. Bagi Asia Tenggara, ia menjadi momentum untuk memperkuat identitas tanpa jatuh pada rasisme baru. Bagi kawasan Asia secara luas, ini adalah kesempatan untuk membangun solidaritas yang lebih sehat, berbasis penghormatan, bukan reaksi emosional, karena di masa depan, yang akan bertahan bukan budaya yang paling kuat, tetapi yang paling inklusif.*Baca Juga: Bangun Komunikasi Berdampak dan Bermakna, PNM Borong Tiga Penghargaan PRIA 2026
BUNG STH BICARA adalah kolom opini tentang isu hangat dan aktual yang ditulis oleh Stefy Thenu, jurnalis senior Suara Pembaruan, aktivis sejumlah organisasi, anggota PWI Jateng dan bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers.
Artikel Terkait
Dari Bali ke Korea, Carmen Resmi Jadi Idol KPop SM Entertainment!
Emil Dardak Bawakan Lagu Korea di Resepsi Megawati Hangestri, Tuai Decak Kagum Warganet
Pengacara Korea Soroti Kasus Danielle NJZ, Disebut Harus Hadapi Min Heejin Demi Selamatkan Posisi
Shock! Anak SD Korea Selatan Tahun Ini Turun di Bawah 300 Ribu, Krisis Kelahiran Semakin Parah
Ajukan Keringanan Usai Perkosa Ibu Mertua dan Adik Ipar, Pria di Korea Tuai Amarah Publik