Sebuah momen haru mewarnai layar kaca Kompas TV pada 30 April 2025, kala sang presenter senior, Gita Maharkesri, tak kuasa membendung air mata dalam siaran terakhirnya. Di tengah senyap studio, suara hatinya pecah dalam getar yang jujur, menandai akhir dari perjalanan panjang yang telah membentuk kenangan begitu banyak pemirsa.Baca Juga: Promedia Kenalkan Bisnis Content Creator Lewat CoreLab 2025 di FISIP UNTIRTA
Tangis Gita, yang tulus dan menggugah, menjalar cepat di media sosial—sebuah perpisahan yang bukan hanya menyentuh, tapi menggema di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja yang sedang menyelimuti banyak insan media.
Meski mencoba tetap tegar, getar di suaranya tak bisa menyembunyikan luka di hatinya. Setetes demi setetes, air mata mengalir saat ia menutup program olahraga yang selama hampir 12 tahun menjadi denyut pagi bagi jutaan penonton.Baca Juga: Konsep Awal Pernikahan Bocor, Luna Maya & Maxime Bouttier Putuskan Siarkan Langsung di YouTube
“Tak terasa, inilah akhir dari sebuah perjalanan panjang... Kompas Sport Pagi, yang setia hadir menemani Anda dengan kisah dari dalam dan luar negeri—tentang semangat, perjuangan, dan kebanggaan para atlet Indonesia dan dunia,” ucapnya, dengan suara bergetar dan derai air mata.
Gelombang PHK di industri media bukan cerita baru. Saat era teknologi digital merambah -diperparah dengan gelombang pandemi Covid-19 - menggantikan era teknologi cetak, sontak koran-koran pun bertumbangan. Ribuan jurnalis pun jadi korban PHK. Baca Juga: Misteri Rekaman Kim Sae-ron: Informan Diserang Brutal di AS, FBI Turun Tangan Ungkap Dugaan Konspirasi Aktor Ternama
Tahun 2025 menjadi babak baru dari ironi ini. Di tengah maraknya informasi dan kebutuhan akan jurnalisme yang andal, para jurnalis justru menjadi korban dari logika ekonomi yang kian tanpa empati.
Di sebuah ruang redaksi media daring besar yang enggan disebut namanya, seorang editor yang telah mengabdi lebih dari satu dekade menggulung barang pribadinya ke dalam kardus bekas printer. Di antara tumpukan kertas, ada foto bersama narasumber dari Papua, buku catatan bersampul kulit, dan mug bertuliskan “Berita Adalah Napas Demokrasi.” Ia tersenyum kecil, pahit, “Ternyata napas itu bisa dicabut sewaktu-waktu.”Baca Juga: KONI Bengkulu Persiapkan Gelar Musprov Pilih Ketua Umum Baru
Perusahaan menyebut alasan klasik: efisiensi, pergeseran konsumsi media, dan menurunnya pemasukan iklan. Namun, para pekerja melihatnya sebagai ketidakadilan struktural—profit diutamakan, peran manusia dikesampingkan. Ironisnya, pemilik modal tetap bertumbuh, sementara pekerja yang selama ini menjaga marwah jurnalistik perlahan terpinggirkan.Baca Juga: Gubernur Jatim Salurkan Bansos Rp 12,9 Miliar Untuk Masyarakat Bondowoso
Jurnalisme, dalam sejarahnya, bukan sekadar bisnis. Ia adalah tiang demokrasi, pengawas kekuasaan, penutur kebenaran. Namun kini, tiang itu mulai retak, bukan karena tekanan dari luar semata, tapi karena goyangan dari dalam: ketidaksanggupan korporasi menjaga integritas sekaligus manusia yang menghidupinya.
Sebagian jurnalis yang terkena PHK mencoba bertahan. Ada yang membuka warung kopi kecil di pojok kota, ada yang mulai menulis konten promosi, ada pula yang masih setia menulis di blog pribadi, menolak diam. Tapi tak sedikit yang memilih hengkang dari dunia yang dulu mereka cintai, merasa dikhianati oleh sistem yang pernah mereka percayai.Baca Juga: Mentan Amran Dampingi Wapres Gibran di NTT, Komitmen Pemerintah All Out Majukan Petani
Krisis ini bukan sekadar cerita tentang kehilangan pekerjaan. Ini adalah cerita tentang kehilangan makna, kehilangan ruang untuk menyuarakan yang lemah, dan perlahan—kehilangan kepercayaan pada profesi itu sendiri.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dan bertanya ulang: siapa yang benar-benar peduli pada jurnalis—manusia di balik layar yang menyusun kebenaran demi kebenaran—ketika berita tak lagi diperlakukan sebagai produk utama, melainkan sekadar umpan demi klik, demi trafik, demi algoritma?Baca Juga: Jusuf Kalla harap UMI Makassar dan NUS Singapura Kerja Sama soal Riset Warisan Maritim Singapura dan Sulawesi
Apa arti profesi wartawan ketika kecepatan menjadi mata uang utama, mengalahkan kedalaman dan ketelitian? Ketika wartawan didorong bukan oleh naluri jurnalistik, tapi oleh desakan metrik: views, shares, dan engagement rate? Ketika intuisi jurnalistik yang terasah oleh pengalaman digeser oleh pola pikir mesin, oleh algoritma yang dingin dan tak mengenal nurani?Baca Juga: Bill Gates Kunjungi Sekolah di Jakarta, Puji Program Makan Bergizi Gratis untuk Anak dan Ibu
Di tengah arus informasi yang membanjiri setiap layar, kita lupa bahwa di balik setiap berita yang bertanggung jawab, ada peluh, ada integritas, ada keberanian. Tapi kini, tekanan ekonomi, tekanan platform digital, dan tekanan pembaca yang kian cepat bosan, mendorong jurnalisme ke persimpangan jalan yang berbahaya.Baca Juga: Cinta dan Janji Allah: Rahmat yang Mengalir kepada Hamba-Nya
Artikel Terkait
Plt Sekda Pastikan Tidak Ada PHK Tenaga Honorer di Pemkot Bengkulu
Kurator Kuasai Aset Sritex Sebesar Ini, Setelah Dinyatakan Bangkrut dan PHK Ribuan Karyawan
Karyawan Sritex yang Kena PHK Terancam Tak Dapat THR, Anggota DPR RI: Perusahaan Sering Hindari Tanggung Jawab!
Arahan Presiden Prabowo: Buruh Sritex yang Kena PHK Bisa Kerja Lagi