Imelda Sundoro, Founder SUN Motor Group: Pantang Menyerah, Jujur dan Fokus

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 4 Maret 2024 | 17:03 WIB
Imelda Sundoro, Founder Sun Motor Group.  (dok pribadi)
Imelda Sundoro, Founder Sun Motor Group. (dok pribadi)

Solo, suarapembaruan.news - Siapa tak kenal Imelda Tio atau Imelda Sundoro? Dari kota kelahirannya, Solo, perempuan tangguh ini sukses menorehkan namanya hingga ke kancah internasional.


Dari bisnis utama di bidang otomotif, Presiden Komisaris dan founder Sun Motor ini, menoreh sukses luar biasa di bisnis properti.


Tercatat 19 jaringan propertinya berupa hotel dan superblok tersebar di Solo, yakni Novotel, Ibis Styles, Royal Surakarta Heritage, Ramada Suites, Super 8, dan Solo Paragon (Superblok).


Di Jogja, propertinya yakni The Phoenix, Grand Mercure, Ibis, Ramada Sleman dan Wyndham Garden. Di Semarang ada Novotel dan Ibis. Di Jakarta, Ibis Styles Cikarang, Mercure Grogol dan Days Hotel.


Di Bali, dia memiliki Ibis Styles Denpasar, Ibis Kuta dan Ramada Bali.


Selain itu, di Semarang dan Jogja, Imelda Tio juga memiliki perumahan yang dibangun bekerja sama dengan Ciputra.


Hotel The Royal Surakarta Heritage pernah mendapatkan penghargaan dari MURI karena mengusung konsep serba batik sehingga membuat hotel yang sebelumnya merupakan bangunan mangkrak itu, menjadi salah satu ikon dan ciri khas Kota Solo.


Lahir di Solo, pada 2 Mei, Imelda Sundoro merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Koo Tjong Tjang dan ibunya Tio Fee Swie. Ayahnya meninggal dunia ketika Imelda berusia 9 tahun.


“Bayangkan bagaimana upaya mami yang punya tujuh anak waktu itu untuk menghidupi anak-anaknya. Padahal mami waktu itu berusia 27 tahun,” cerita Imelda.


Imelda mengaku sudah terbiasa hidup susah. Mentalnya sekuat baja. Sejak kecil, dia digembleng karena dia tak biasa dimanja. Imelda mengenyam pendidikan di Malang dan Solo.

Imelda Sundoro bersama putra-putrinya. (dok pribadi )

Setelah lulus SMA Kanisius Putri, Imelda sempat melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta hingga tahun ketiga.


Setelah menikah, Imelda membuka usaha jahitan di Solo. Produknya kemudian dijual di Jakarta, dibantu oleh adik Imelda, Koo Lie Ing. Usaha konveksinya berkembang. Seiring dengan itu, Imelda juga memulai usaha furnitur dan menjadi makelar mobil bekas.


Imelda yang terbiasa bekerja keras ini mampu mengembangkan usaha bisnisnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi bukit. Hingga kini, Imelda tetap merakyat. Dia akrab dengan siapa pun. Tak jarang dia selalu mengajak para pegawainya makan bersama.


“Saya selalu ingat masa-masa susah. Jadi, sambil bekerja, saya juga tetap memikirkan orang-orang kurang beruntung,” katanya.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

X