Bambang Hariyanto Bachrudin, atau akrab disapa BHB, merupakan salah satu politisi yang mencatat sejarah panjang di dunia politik Jawa Tengah. Selama enam periode berturut-turut, ia dipercaya masyarakat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah—sebuah capaian luar biasa yang jarang terjadi. Wajahnya selalu memancarkan rasa syukur setiap kali kembali memperoleh mandat rakyat.
“Kepercayaan ini adalah amanah besar yang harus saya jalankan dengan penuh tanggung jawab. Sebagai wakil rakyat, saya berkomitmen melaksanakan tugas sesuai fungsi dan aturan yang berlaku,” ujar BHB dengan nada tegas.
Perjalanan politik BHB dimulai sejak usia muda. Ia pertama kali aktif di dunia politik melalui PDI Perjuangan sebagai pengurus komisaris kecamatan di Sokaraja, yang kini dikenal sebagai Pengurus Anak Cabang. Ketertarikannya pada PDI Perjuangan lahir dari kesamaan visi dan semangat kerakyatan. Saat itu, partai berlambang banteng tersebut masih sederhana dan kekurangan sumber daya manusia maupun finansial. Namun bagi BHB, kondisi tersebut justru menjadi tantangan untuk ikut membesarkan partai di Banyumas.
Ketika terjadi peristiwa 27 Juli 1996, BHB berada di garda depan membentuk PDI ProMega Banyumas dan dipercaya menjadi ketua. “Saya melihat partai lain lebih identik dengan penguasa, sementara saya merasa cocok di PDI Perjuangan yang berpihak pada rakyat kecil,” kenangnya.
Pada 1999, BHB maju sebagai calon legislatif DPRD Jawa Tengah dari dapil Banyumas-Cilacap dan berhasil melenggang ke Gedung Berlian. Kesuksesan tersebut berlanjut pada periode 2004–2009. Tantangan muncul pada 2009–2014, ketika ia dipindahkan ke dapil baru (Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen). Namun dengan kerja keras dan optimisme, ia kembali terpilih.
Pemilu 2014 menjadi momen “pulang kampung” bagi BHB ketika maju dari dapil Banyumas-Cilacap. Ia kembali meraih kepercayaan masyarakat, yang terus berlanjut hingga pemilu 2019 dan 2024. Kini, ia juga dipercaya sebagai Ketua Komisi C DPRD Jawa Tengah.
Salah satu kekuatan BHB adalah kedekatannya dengan masyarakat. Meski tidak lagi mewakili dapil VII, ia tetap menjaga hubungan dengan warga di Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. “Hubungan saya dengan masyarakat adalah habluminannas, bukan semata kepentingan politik,” ujarnya.
Tak mengherankan jika setiap Lebaran banyak warga masih datang bersilaturahmi ke rumahnya di Sokaraja. Ia pun mengaku lebih betah berada di daerah ketimbang di Semarang. “Selama lima periode menjadi anggota dewan, mungkin tidak sampai seratus kali saya bermalam di Semarang,” ungkapnya sambil tersenyum.
Nama BHB begitu dikenal di Banyumas—mulai dari tukang becak, seniman, hingga pejabat daerah mengenalnya sebagai sosok yang hangat dan mudah didekati.
Menjaga Ideologi Kerakyatan
Sejak awal berkiprah di dunia politik, BHB memandang kekuasaan sebagai sarana memperjuangkan kepentingan rakyat. Bagi dia, lembaga legislatif berperan sebagai jembatan antara aspirasi masyarakat dan kebijakan pemerintah.
“Kalau aspirasi rakyat bisa diwujudkan, itu bukan keberhasilan individu. Kita hanya penghubung, karena keputusan akhir tetap berada di eksekutif,” jelasnya.
BHB menekankan pentingnya memperjuangkan aspirasi sesuai aturan dan tidak bertentangan dengan regulasi maupun prinsip partai. Ia aktif menyerap masukan masyarakat, baik dalam kegiatan resmi, pertemuan sosial, maupun saat santai di tengah warga.
Banyak program dan aspirasi rakyat yang telah ia bantu realisasikan. Namun, ia selalu menolak mengklaim itu sebagai pencapaian pribadi. “Politik seharusnya berkorelasi langsung dengan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Artikel Terkait
Andika-Hendi Kalah di Pilkada 2024 Versi Quick Count, PDIP Sebut Jateng Masih Jadi Kandang Banteng
Jokowi, Gibran dan Bobby Resmi Dipecat PDIP, Pengamat Politik: Sosok Jokowi Lebih dari Sekadar Partai
DPD PDIP Jawa Tengah Gelar 18 Kegiatan Spesial Peringati Bulan Bung Karno
2.000 Kader PDIP Jateng Ziarah ke Blitar, Serap Semangat Bung Karno untuk Persatuan Bangsa
Hasto Lengser, Megawati Pilih Rangkap Jabatan Sekjen di PDIP