Upacara Labuhan Merapi Digelar Kembali dalam Rangka Jumenengan ke-38 Sri Sultan HB X

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Kamis, 22 Januari 2026 | 15:24 WIB
Wabup Sleman, Danang Maharsa dalam Upacara Labuhan Merapi Digelar  dalam Rangka Jumenengan ke-38 Sri Sultan HB X
Wabup Sleman, Danang Maharsa dalam Upacara Labuhan Merapi Digelar dalam Rangka Jumenengan ke-38 Sri Sultan HB X

 

Sleman, SUARA PEMBARUAN – Upacara adat Labuhan Merapi kembali dilaksanakan pada Selasa (20/1/2026) sebagai bagian dari peringatan Tingalan Jumenengan Dalem atau hari penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-38. Ritual ini sebagai wujud rasa syukur dan doa bagi keselamatan Sultan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Baca Juga: Sidang Korupsi Dana Hibah Sleman: Saksi Ungkap Arahan Bupati untuk Sukseskan Pilkada via Pokmas dan Pesan WA dari Anak Bupati

Prosesi diawali dengan perjalanan membawa ubarampe (perlengkapan ritual) dari Pendopo Museum Petilasan Mbah Maridjan menuju Sri Manganti Hargo Merapi. Rombongan yang dipimpin oleh Paring Dalem Surakso Hargo atau Mbah Asih bersama abdi dalem Keraton ini juga diikuti oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Setiba di lokasi, rangkaian upacara dilanjutkan dengan ritual, doa, serta pembagian nasi beserta lauk-pauk (berkat) kepada masyarakat setempat dan wisatawan yang hadir menyaksikan.

Baca Juga: Tonggak Sejarah Pendidikan Vokasi: Kemenperin Sambut Lulusan Perdana Program Internasional Luban-Mozi College, Siap Berkarier di Sailun Group

Wakil Bupati Danang Maharsa menyampaikan apresiasi atas tingginya antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap upacara adat yang rutin digelar di Sleman ini. Ia berharap makin banyak pihak yang dapat memahami makna dari Labuhan Merapi. “Selain sebagai ritual budaya, labuhan ini juga menarik perhatian sebagai objek wisata. Tentu hal ini sangat istimewa bagi kami,” ujarnya.

Baca Juga: UGM wisuda 1.061 lulusan pascasarjana

Lebih lanjut, Danang menegaskan bahwa upacara ini tidak hanya bertujuan memohon keberkahan hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya ‘nguri-uri’ atau melestarikan budaya. “Bagi orang Jawa, ini adalah keyakinan untuk mendekatkan diri kepada alam dan Sang Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita bisa bersatu dan saling menjaga alam,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata disebutkan terus melakukan pemantauan dan evaluasi agar prosesi adat dapat berjalan dengan baik. Ke depan, diharapkan Labuhan Merapi tetap menjadi ritual yang sakral sekaligus daya tarik wisata budaya bagi Sleman.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X