Sejarah mengajarkan bahwa identitas sejati tidak dibangun dari pertentangan, melainkan dari kemampuan untuk berdialog dengan masa lalu. Mandailing menemukan dirinya bukan di antara dua kutub yang bertentangan, tetapi dalam titik keseimbangan di mana adat menjadi jalan bagi syariat untuk hidup, dan syariat memberi makna bagi adat agar tidak kehilangan arah.
“Di antara hamparan sejarah,” tulis seorang ulama tua Mandailing, “Islam tidak datang untuk menghapus adat, tetapi untuk meneranginya.”
Dan di sanalah Mandailing berdiri hari ini — di antara warisan Padri dan kearifan leluhur — sebagai saksi bahwa iman dan kebudayaan dapat bersatu, membentuk identitas yang kokoh di tengah gelombang zaman.
Artikel Terkait
Efisiensi dan Inovasi Dorong Solusi Bangun Indonesia Catat Laba Rp474,5 Miliar di Tengah Pasar Lesu
SIG Catat Penjualan 27,4 Juta Ton dan Laba Rp114,8 Miliar, Tetap Tumbuh di Tengah Kontraksi Pasar Domestik
Onadio Leonardo dan Istri Diamankan karena Narkoba, Polisi Temukan Ganja dan Dugaan Ekstasi
Gibran Hadiri Acara Mancing Saat Hari Sumpah Pemuda, Roy Suryo: Bukan Level Wapres
15 Siswa SMKN 5 Bengkulu Utara Ikuti Program Kerja di Jepang
Wali Kota Dedy Wahyudi Minta Lurah Camat Sering Turun ke Lapangan Serap Aspirasi Masyarakat
Pemkot Bengkulu Fokus Kurangi Titi Banjir di Musim Hujan
Pasokan Meningkat, Harga Tomat di Bengkulu Anjlok Rp 4.000/Kg
Atasi Kerugian , Manajemen PDAM Tirta Tebo Mas Lebong Terus Lakukan Perbaikan
BKSDA Bengkulu Amankan Beruang Madu Berkeliaran di Perkampungan Warga