Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim
Sejarah Mandailing adalah perjalanan panjang tentang pertemuan antara iman, adat, dan perjuangan. Di tanah perbukitan yang sejuk dan berlapis kabut itu, Islam tidak datang dengan tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, berakar dalam hati masyarakat yang terbuka pada ilmu dan nilai-nilai luhur. Namun, masa awal abad ke-19 menjadi titik balik yang penting—ketika **gerakan Padri** dari Minangkabau membawa gelombang besar pembaharuan ke wilayah-wilayah pedalaman Sumatera, termasuk Mandailing.
Gerakan Padri lahir dari semangat memurnikan ajaran Islam, terinspirasi dari ajaran tauhid yang diperoleh para haji dan ulama Minangkabau di Tanah Haram. Mereka ingin mengembalikan masyarakat kepada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah yang murni. Namun semangat itu tidak selalu berjalan mulus. Ketika sebagian kaum Padri memilih jalan kekerasan terhadap adat yang dianggap menyimpang, perlawanan pun muncul di berbagai daerah, termasuk di Mandailing.
Bagi orang Mandailing, agama dan adat bukanlah dua hal yang harus saling meniadakan. Ada pepatah tua yang hingga kini dipegang teguh:
Adat dohot ugamo do marparpadanan” — adat dan agama itu bersaudara.
Karena itu, ketika ajaran Islam datang, masyarakat Mandailing tidak sekadar menolaknya atau menerimanya secara mentah. Mereka menyerapnya dengan hati-hati, menyesuaikannya dengan tatanan sosial yang telah hidup berabad-abad. Islam diterima bukan hanya sebagai dogma, tapi sebagai napas kehidupan yang menyatu dalam tutur, perilaku, dan musyawarah adat.
Baca Juga: Akar Masalah Sistem Pendidikan Di Indonesia
Meskipun demikian, jejak gerakan Padri di Mandailing tak dapat dihapus dari sejarah. Ia meninggalkan semangat baru: **kemurnian tauhid, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap ilmu**. Banyak ulama yang muncul dari masa itu dan menjadi pelita di tengah masyarakat. Beberapa di antaranya bahkan menuntut ilmu hingga ke Makkah, membawa pulang semangat pembaruan dan mendirikan surau serta madrasah yang kemudian menjadi cikal bakal pesantren modern.
Nama-nama seperti **Tuanku Tambusai** dan para ulama Lubis, Nasution, serta Harahap dari berbagai daerah Mandailing menjadi simbol keterhubungan antara gerakan Islam dan perjuangan rakyat. Mereka bukan hanya penyebar dakwah, tetapi juga pejuang melawan kolonialisme Belanda. Di tangan merekalah semangat Islam menyatu dengan rasa kebangsaan yang kelak membentuk kesadaran politik dan sosial di tanah Sumatera.
Dari pertemuan antara semangat keagamaan dan kearifan adat itulah terbentuk identitas Mandailing yang khas — religius namun berbudaya, tegas tapi penuh kelembutan. Islam tidak menghapus adat, tetapi menyucikannya; adat tidak menolak syariat, melainkan menempatkannya sebagai penuntun hidup. Maka, lahirlah sebuah peradaban lokal yang unik: masyarakat yang beriman tapi tidak kaku, beradat tapi tidak jumud.
Baca Juga: Ciptakan Kota Hijau dan Bersih, Pemkot Bengkulu Gencarkan Program Sapo Suruh
Kini, ketika arus globalisasi mengguncang nilai-nilai lama dan generasi muda mulai jauh dari akar tradisinya, jejak Padri dan warisan keislaman Mandailing menjadi cermin yang berharga. Dari sejarah itu, kita belajar bahwa kemajuan tidak harus berarti kehilangan jati diri, dan keislaman tidak berarti menolak kearifan lokal.
Sejarah Mandailing bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan pesan untuk masa depan: bahwa iman, ilmu, dan budaya dapat bersatu dalam harmoni. Bahwa Islam yang datang berabad silam di tanah ini bukan hanya mengubah keyakinan, tapi juga membentuk **jiwa dan karakter sebuah bangsa kecil** — yang tetap setia memelihara kehormatan, adat, dan agamanya.