Semarang, SUARA PEMBARUAN – Peringatan 100 tahun kelahiran Ki Nartosabdho digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang pada Senin (25/8) malam. Acara berlangsung penuh khidmat sekaligus meriah sebagai penghormatan kepada sang dalang sekaligus komponis besar yang meninggalkan jejak mendalam dalam seni tradisi Jawa.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak sore dengan ziarah ke makam Ki Nartosabdho di TPU Bergota bersama para seniman Semarang. Malam harinya, pembukaan acara ditandai penampilan musik akustik Satoboemi yang melantunkan tembang karya maestro.
TBRS semakin semarak dengan pameran seni rupa bertajuk Mijil, menampilkan karya tiga seniman lokal: Muji Konde, Basuki, dan Gunawan Effendi. Suasana semakin kaya dengan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair, memperkuat nuansa reflektif dalam peringatan.
Ketua Umum Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Adhitia Armitrianto, menekankan pentingnya momen seabad kelahiran Ki Nartosabdho sebagai bahan refleksi perjalanan seni Jawa.
“Mendiang adalah maestro perwayangan dan tembang Jawa. Pencapaiannya perlu kita kenang dan kita hubungkan dengan kondisi kesenian saat ini,” ujarnya, Rabu (27/8).
Sebagai penghormatan, Dekase berencana menyusun antologi berisi 100 puisi dari 100 penulis Jawa Tengah.
“Semoga rencana ini berjalan lancar sebagai bentuk penghargaan terhadap karya beliau,” tambah Adhitia, yang juga menjabat Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Jateng.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso, menyebut Ki Nartosabdho sebagai kebanggaan sekaligus identitas budaya kota.
“Beliau maestro perwayangan dan tembang, warisan ini harus dibanggakan serta dijaga oleh generasi muda,” ujarnya.
Wing juga menyinggung tantangan seni tradisi di tengah gempuran budaya populer global. “Arus budaya luar sangat deras, dari K-Pop hingga drama Korea. Peringatan seabad Ki Nartosabdho ini semoga jadi penguat semangat masyarakat untuk terus nguri-uri budaya Jawa, agar tetap jadi landasan moral dan etika bagi anak muda,” jelasnya.
Jejak Panjang Maestro
Ki Nartosabdho lahir di Klaten pada 1925 dan mulai berkiprah sejak bergabung dengan Wayang Orang Ngesti Pandowo di Semarang pada 1945. Pada 1950-an, namanya melejit sebagai dalang dengan gaya pementasan yang penuh improvisasi dan inovasi.
Ia kemudian mendirikan kelompok karawitan Condong Raos yang setia mengiringi pementasan wayang sekaligus memperkenalkan tembang-tembang ciptaannya. Meski sempat ditolak karena dianggap melenceng dari pakem, kreativitasnya akhirnya diterima luas masyarakat.
Ki Nartosabdho wafat di Semarang pada 7 Oktober 1985. Namun, warisan seninya terus hidup dan menjadi sumber inspirasi dalam dunia perwayangan, karawitan, dan tembang Jawa hingga kini.*
Artikel Terkait
Seniman Gagas Pasar Pagi
Ini Langgar Art, Wadah untuk Seniman yang Baru Diresmikan Bupati Banyuwangi
Peringati Hari Jadi Seni Rupa, Seniman Banyuwangi Gelar Jagong Budaya, Pentas Wayang dengan Dalang Presiden Jancukers
Umbul Donga Bersama Gus Mus, Mengenang dan Doa untuk Arwah Para Seniman
Deretan Dugaan Intimidasi Polisi ke Seniman Tanah Air: Dari Lagu Band Sukatani hingga Teaternya Butet Kartaredjasa