Pemalang, SUARA PEMBARUAN - Calon Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melanjutkan kunjungannya ke PT Mega Putra Garment di Kabupaten Pemalang, salah satu perusahaan garmen terbesar di wilayah tersebut.
Kunjungan ini membuka pandangan baru terkait potensi tenaga kerja lokal serta tantangan yang dihadapi sektor tekstil dalam menghadapi persaingan internasional dan produk impor, terutama dari Tiongkok.
Setibanya di lokasi, Luthfi terkejut mengetahui bahwa perusahaan ini mempekerjakan sekitar 1.500 karyawan.
Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah meskipun bahan tekstil yang digunakan diimpor, seluruh proses produksi hingga pemasaran dilakukan oleh tenaga kerja lokal dan hanya dipasarkan di dalam negeri.
“Tidak ada satupun yang diekspor," kata Luthfi, Selasa (2/10).
Luthfi kemudian berbincang dengan pihak manajemen mengenai alasan mengapa produk mereka tidak diekspor. Jawabannya cukup mengejutkan: kebutuhan dalam negeri sudah mencukupi, dan perusahaan tetap optimis bahwa industri garmen bisa hidup asalkan mampu bersaing dengan kualitas dan inovasi.
"Saya tanya kenapa tidak diekspor? Ternyata untuk kebutuhan dalam negeri sudah mencukupi, ada optimisme dari pengusaha garmen kalau garmen bisa hidup asalkan bisa bersaing," ujar Luthfi.
Dalam dialog tersebut, Luthfi menekankan bahwa salah satu tantangan utama di sektor tenaga kerja saat ini bukanlah minimnya lapangan pekerjaan, melainkan kurangnya sumber daya manusia yang siap pakai.
Menurutnya, untuk menghadapi tantangan ini, Jawa Tengah membutuhkan lebih banyak Balai Latihan Kerja (BLK) yang tersebar di berbagai daerah.
Dengan adanya BLK, pencari kerja bisa mendapatkan pelatihan yang memadai sebelum memasuki dunia kerja, sehingga lebih siap bekerja di industri garmen atau sektor lainnya.
"Ke depan kita harus punya BLK Balai Latihan Kerja di mana-mana, sehingga para pencari kerja dilatih dulu. Jadi mereka siap kerja di garment atau di mana saja," kata Luthfi.
Luthfi juga menyoroti perilaku generasi muda yang cenderung menginginkan hasil instan dalam bekerja.
Ia menyebut bahwa banyak pekerja muda yang keluar dari pekerjaannya hanya karena faktor kecil seperti sedikitnya gaji atau tidak nyaman dengan kondisi kerja. Hal ini membuat perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja yang benar-benar siap pakai dan loyal terhadap pekerjaan.