Supaini juga mengaku kecewa karena perusahaan dinilai tidak pernah membuka perhitungan pesangon secara transparan kepada pekerja maupun serikat.
"Selama saya bekerja lebih dari 17 tahun, perusahaan tidak pernah mengajak kami berunding. Bahkan saat mediasi, kami juga mempertanyakan dasar perhitungan pesangon itu," katanya.*