politik-hankam

Rapat DPR Mencekam, Penjelasan Fadli Zon soal Tragedi Mei 1998 Memicu Tangis Legislator

Rabu, 2 Juli 2025 | 18:26 WIB
Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon. (Instagram.com/@fadlizon)


Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Suasana rapat Komisi X DPR RI bersama Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, berubah menjadi penuh emosi saat membahas isu kekerasan terhadap perempuan dalam tragedi Mei 1998.

Isu tersebut mencuat setelah Fadli menjawab pertanyaan seputar pernyataannya yang mempertanyakan bukti hukum mengenai pemerkosaan massal dalam kerusuhan 1998. Ia menegaskan tidak menyangkal terjadinya kekerasan, namun mengkritisi penggunaan istilah “massal” yang dinilainya belum terbukti secara hukum.

"Jelas ada pemerkosaan, dan itu adalah kejahatan kemanusiaan. Namun, secara hukum kita belum punya kepastian seperti dalam kasus Trisakti yang memiliki pelaku dan fakta hukum yang kuat," ujar Fadli saat rapat di Kompleks Parlemen, Rabu, 2 Juli 2025.

Fadli juga menyebut bahwa sebagian foto yang beredar sebagai bukti kekerasan seksual saat itu ternyata bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari luar negeri seperti Jepang dan Hong Kong. Ia menambahkan bahwa dokumentasi tragedi tersebut masih menyisakan banyak kekurangan karena kondisi kebebasan pers yang baru terbuka saat itu.

Penjelasan Fadli memicu reaksi emosional dari dua legislator perempuan. Wakil Ketua Komisi X, My Esti Wijayati, tak mampu menahan tangis dan menyela pembicaraan dengan suara bergetar.

"Semakin Pak Fadli bicara, semakin terasa menyakitkan. Saya tidak sedang di Jakarta waktu itu, dan saya tidak bisa pulang selama beberapa hari karena suasana yang sangat mencekam," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Esti menganggap penjelasan Fadli terlalu kaku secara teori dan tidak cukup menunjukkan empati terhadap korban-korban kekerasan dalam tragedi tersebut. Anggota Komisi X dari Fraksi PDIP, Mercy Barends, juga terlihat menitikkan air mata.

Menanggapi interupsi tersebut, Fadli Zon kembali menegaskan bahwa ia tidak pernah menyangkal adanya pemerkosaan dalam peristiwa Mei 1998, dan ia mengutuk keras segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

"Itu terjadi, Bu. Saya mengakui dan tidak pernah menampik peristiwa itu. Saya sangat mengecam tindakan tersebut," tegas Fadli.

Tags

Terkini